Banyak gambar Leonardo da Vinci bertahan pakai tinta itu. Tapi tinta yang sama bisa memakan halaman perkamen sampai berlubang. Bedanya bukan kualitas, tapi seberapa dalam reaksi terjadi dan apakah materialnya kuat menahan. Prinsip yang sama berlaku ketika aku mewarnai kulit di workshop.
Aku pernah mewarnai dompet veg-tan dan warnanya belang begitu kena keringat tangan. Warna yang aku semprot di permukaan kabur dalam seminggu. Warna yang aku rendam dan diamkan semalam menggigit ke serat dan bertahan. Aku tidak tahu kenapa sampai aku cari tahu soal mordant dan cara kerja tanin di samak nabati. Ternyata metode penyamakan menentukan seberapa dalam pewarna bisa masuk, jauh sebelum kuas menyentuh kulitnya.
Buku ini menelusuri sejarah tinta besi-empedu, mordant sebagai pengikat warna, tradisi morocco leather yang disamak dengan sumac sebelum abad ke-11, dan cap panas yang meninggalkan tanda permanen. Semua dari sudut pengrajin yang ingin menguji apakah warnanya sudah mati di serat, bukan menebak dari kilapnya.
Untuk pengrajin yang mewarnai kulit dengan pewarna nabati, pewarnaan kulit veg-tan, atau siapa pun yang penasaran kenapa sebagian iron gall ink merusak perkamen sementara sebagian bertahan berabad-abad, ini adalah riwayat teknis sejarah tinta dan kulit yang bisa diperiksa.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923