Waktu pertama aku punya kulit veg-tan, aku kira itu bahan biasa. Terus basah kena air, menggelap tak terduga, kaku di tempat yang salah, lembek di tempat yang lain. Aku sempat menduga itu cacat produksi. Ternyata bukan; itu sifat bawaannya yang tidak aku mengerti.
Buku ini menelusuri kenapa samak nabati berperilaku begitu. Bukan dari laboratorium, tapi dari sejarahnya: kenapa tiap negara dulu pakai tanin yang beda (oak di Inggris, hemlock di Amerika, willow di Rusia), kenapa proses yang sama butuh 9 sampai 18 bulan di tradisi pit tanning, dan kenapa tanin dari quebracho berperilaku beda dengan tanin dari chestnut. Sepatu kulit gua Areni-1 di Armenia bertahan sejak sekitar 3.500 SM. Ada alasan teknis kenapa ia bisa bertahan selama itu, dan alasan yang sama pula yang membuat veg-tan di meja kerjamu berperilaku seperti sekarang.
Ini bukan buku menyamak sendiri. Ini buku kenapa. Kalau kamu beli veg-tan, menjual veg-tan, atau ingin tahu apakah menyamak sendiri masuk akal di skala kecil, sejarah samak nabati, tanin, kulit veg-tan, proses penyamakan, pit tanning, dan sifat catechol versus pyrogallol jadi konteks yang berguna.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923