Aku nulis ini karena dulu aku beli kulit dua lembar dari toko yang sama, katanya veg-tan, tapi satu kaku dan retak setelah dilipat tiga kali, satunya lentur sampai sekarang. Aku nggak tahu kenapa sampai aku mulai baca soal proses penyamakannya, bukan ulasan produknya. Ternyata perbedaannya bukan di merek, tapi di sejarah dua jalur yang sudah berpisah sejak 1858 waktu Friedrich Knapp dan Hylten Cavalin dari Swedia menemukan samak krom.
Samak nabati lambat, bisa sampai berminggu-minggu, dan kandungan taninnya bisa 20% dari berat kulit. Samak krom selesai kurang dari sehari, bahan penyamaknya cuma 4% dari berat kulit. Beda ini yang bikin perilakunya beda di meja kerja. Bukan merek, bukan harga, bukan negara asalnya.
Di Nusantara sendiri ada catatan: industri kulit Magetan konon berdiri sejak 1830, dipicu berakhirnya Perang Diponegoro. Sukaregang di Garut berkembang sejak 1920-an. Bukan catatan panjang, tapi cukup buat tahu bahwa orang di sini juga sudah lama membaca kulit lewat proses, bukan cuma lewat harga.
Buku ini untuk pengrajin yang beli kulit per lembar, penjual yang ingin cerita bukan cuma stiker harga, dan siapapun yang penasaran kenapa kulit awet padahal daging busuk. Sejarah samak nabati, samak krom, veg-tan, tanin, penyamakan Nusantara, dan perbedaan perilaku kulit di bengkel ada di sini.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923