Aku baru menyiapkan stok dompet dua minggu sebelum Lebaran. Kulit warna yang aku mau sudah kosong di mana-mana. Terpaksa pakai warna seadanya yang kurang laku. Tentu saja ini cerita yang aku alami sendiri. Itu bukan nasib buruk, itu kurang hitung mundur.
Banyak perajin memperlakukan musim ramai seperti kejutan, padahal tanggalnya sudah pasti. Untung dari Lebaran tidak ditentukan saat musimnya tiba, melainkan dua sampai tiga bulan sebelumnya saat bahan sudah di tangan dan pesanan sudah ditutup sebelum kewalahan. Di luar itu: bulan sepi setelah musim ramai yang tidak disiapkan, bukan musim ramainya, yang bikin usaha megap-megap. Produk yang laku sepanjang tahun seperti dompet, gantungan kunci, dan tali jam tangan menjaga arus kas tetap mengalir waktu permintaan turun.
Soal tren, aku terlambat lebih dari sekali. Ikut warna atau model saat semua orang sudah jual artinya kebagian pasar yang sudah jenuh dan harga yang sudah jatuh. Ini soal kapan keputusan diambil, bukan seberapa bagus produknya. Fad hilang cepat begitu rasa barunya habis; tren bertahan. Bedanya menentukan apakah kamu layak menyetok bahan untuknya.
Untuk perajin kulit yang tiap tahun kewalahan jelang Lebaran, ikut tren tapi selalu telat, atau omzetnya naik turun tajam karena arus kas musiman dan stok hari raya tidak disiapkan dari jauh hari.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923