Aku pernah bikin jurnal kulit yang lumayan cantik. Beberapa bulan dipakai, halaman mulai copot dari punggung. Bukan karena kulitnya jelek. Bukan karena benang yang putus. Karena aku andalkan lem, dan lem tidak dirancang untuk ribuan kali buka-tutup. Itu kesalahan konstruksi, bukan bahan. Sejarah penjilidan buku adalah sejarah orang belajar perbedaan itu secara perlahan, selama berabad-abad.
Dari gulungan ke kodeks berlembar, dari papan kayu koptik ke jahitan di atas tali kulit di tradisi Eropa, dari punggung rata sampai punggung lengkung yang baru muncul di abad ke-15, setiap perubahan menukar satu hal demi hal lain. Punggung lengkung membuat buku bisa disimpan berdiri di rak, tapi punggung rata yang dijahit dengan benar justru lebih mudah dibuka rata di meja. Tidak ada yang gratis.
Pada 1935 Allen Lane memulai paperback pasar massal berbahasa Inggris. Buku murah, tipis, bisa dibuang. Lem menggantikan jahitan karena lebih cepat dan lebih murah di skala industri. Keawetan bukan lagi pertimbangan utama. Tapi buku tua di rumah yang dijahit di lipatannya masih bisa dibuka rata setelah puluhan tahun, sementara buku paperback baru retak di lipatan pertama.
Buku ini bisa dicari oleh siapa yang membuat jurnal kulit, ingin tahu kenapa jilid tangan punya harga berbeda, atau sekadar penasaran kenapa kodeks menggantikan gulungan dalam dua abad. Sejarah bookbinding, penjilidan jurnal, jahitan koptik, kodeks, jilid kulit, dan punggung buku sebagai konstruksi adalah benang yang sama.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923