Itu yang bikin aku penasaran waktu tas kerja jahitanku dari kulit tebal robek di sudut, bukan di tengah lembar. Kulitnya sendiri masih bagus. Jahitannya yang jebol. Aku kira kulit tebal otomatis bikin barang kuat, ternyata beban keras dan berulang selalu lari ke sambungan dan sudut, bukan ke tengah lembar. Ini bukan kesimpulan dari buku teori: ini dari barang yang aku buat sendiri dan gagal.
Sejarah pembuatan pelana mengajari hal yang sama tapi dari arah yang berbeda. Orang Romawi pakai pelana berangka padat sejak abad ke-1 SM bukan karena suka konstruksi yang ribet, tapi karena rangka kayu di dalam adalah satu-satunya cara membagi bobot penunggang ke dua sisi tulang belakang kuda supaya hewannya tidak luka. Pelana yang terlalu sempit atau terlalu lebar mengubah titik tekan dan akhirnya mengecilkan otot hewan. Jadi rangka bukan ornamen, dia adalah solusi distribusi beban.
Buku ini menelusuri bagaimana saddle tree berkembang dari alas berumbai kavaleri Asyur, lewat pelana nomaden stepa di dataran Mongolia, ke sanggurdi berpasangan yang muncul di China pada 302 M lalu menyebar ke Eropa. Aku tulis bukan untuk kolektor sejarah, tapi untuk pengrajin saddlery dan kerajinan kulit berat yang ingin tahu kenapa konstruksinya harus dimulai dari rangka di dalam, bukan dari memilih lembar kulit yang bagus.
Sejarah saddle making, saddle tree, sanggurdi, dan titik tegangan dalam kerajinan kulit berat: pelajaran yang sama berlaku untuk tas kerja, sarung alat, dan setiap barang yang dipakai keras.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923