Tepi adalah bagian produk kulit yang paling sering disentuh orang pertama kali. Pembeli meraba tepi sebelum melihat jahitan. Tepi kasar, putih, dan menyerap kotoran langsung terasa di jari, dan itu yang pertama mereka nilai. Aku belajar ini dengan cara yang bikin ilfeel sendiri.
Yang bikin masalah bukan tidak tahu tekniknya. Yang bikin masalah adalah terburu-buru. Aku pernah lapis edge paint langsung tanpa amplas dulu. Dua minggu kemudian retak dan mengelupas karena tidak ada permukaan yang menahan. Tepi retak hampir selalu balik ke satu langkah yang dilompati: entah amplas grit 220 untuk hapus cacat, bevel untuk membulatkan sudut, atau burnishing yang dikejar cepat padahal gum tragacanth butuh 30 sampai 60 detik untuk meresap dulu sebelum digosok.
Buku ini memecah urutan finishing tepi yang benar: amplas bertahap dari grit kasar ke halus, bevel sebelum agen apa pun dioleskan, baru finishing dengan edge paint atau burnishing pakai tokonole. Setiap langkah punya fungsi yang tidak bisa diwakilkan langkah lain. Kalau kamu bikin kerajinan kulit dan tepiannya sering retak, mengelupas, atau produkmu terlihat murahan padahal jahitannya rapi, ini soal edge finishing, beveling, burnishing, amplas tepi, tokonole, gum tragacanth, dan kenapa urutan itu tidak bisa diacak.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923