Di bengkel aku, keluhan tas yang masuk hampir selalu jatuh di tempat yang sama: pangkal tali robek, sudut bawah retak. Jarang sekali kulit lembarannya yang jebol. Aku awalnya bingung kenapa pengrajin bisa bikin kulit yang keras tapi talinya copot setelah enam bulan. Setelah baca lebih jauh soal sejarah tas, ternyata bukan salah pengrajinnya saja, orang sudah salah baca di mana beban itu jatuh sejak ribuan tahun lalu.
Sejarah tas adalah sejarah orang belajar memperkuat sambungan. Pada 20 Mei 1873, Jacob Davis dan Levi Strauss mematenkan paku keling tembaga di sudut kantong dan pangkal kancing. Idenya sederhana: bukan menambah tebal kulit, tapi menaruh logam tepat di titik yang paling sering jebol. Ratusan tahun sebelumnya, dompet Sutton Hoo dari makam kapal Anglo-Saxon tahun 624 sudah punya tiga tali berengsel menggantung dari sabuk, karena orang tahu beban ikatan ada di situ.
Buku ini tidak mengajarkan cara membuat tas. Aku tulis ini karena perlu penjelasan yang bisa aku kasih ke pelanggan yang komplain, yang bisa aku kasih ke pengrajin baru yang bingung kenapa hasil kerjanya kuat di sini tapi lemah di sana. Sejarah tas ternyata adalah sejarah titik gagal: jahitan, sudut lipat, pangkal tali. Kekuatan tas tidak ditentukan oleh kulit paling tebal di lembarannya.
Untuk pengrajin tas kulit, penjual yang ingin menjelaskan konstruksinya, atau siapa pun yang penasaran kenapa sejarah tas, kantong kulit, jahitan tas, paku keling, dan kerajinan kulit selalu berkait di titik beban yang sama.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923