Bertahun-tahun aku beli kulit pakai uang dapur. Tidak ada catatan, tidak ada rekening terpisah, tidak ada cara tahu apakah hobinya untung atau nombok. Ini cerita yang sama untuk banyak penghobi kulit yang tiba-tiba kebanjiran pesanan dari orang-orang dekat, lalu bingung bagaimana menaikkan harga tanpa merusak hubungan.
Buku ini bukan tentang makin jago bikin barang. Aku mulai mencatat lembar kulit yang keluar, bukan karena ada yang minta, tapi karena tidak tahan lagi tidak tahu ke mana uangnya pergi. Dari situ aku paham: hobi berubah jadi usaha bukan saat barangnya makin bagus, tapi saat uangnya mulai dicatat. Dua rekening terpisah, catatan masuk-keluar sederhana, dan keberanian menetapkan harga penuh untuk semua orang termasuk teman dan keluarga. Bukan tiga langkah ajaib, hanya tiga kenyataan yang kalau dilewati, usahanya jalan di tempat.
Sebagian kesenangan memang hilang begitu hobi jadi sumber nafkah. Ada tenggat, ada komplain, ada barang yang harus diulang. Itu wajar, bukan tanda gagal. Yang penting tahu bagian mana yang dijadikan usaha dan bagian mana yang dijaga tetap bebas.
Untuk penghobi kulit yang ingin tahu cara pisah uang usaha, catat keuangan usaha kecil, menetapkan harga untuk teman, dan memulai bisnis handmade dengan mata terbuka soal apa yang berubah.