Aku sadar itu dua tahun setelah mulai jualan. Dua tahun aku menghitung harga dari kulit yang menempel di barang jadi, lupa bahwa kulit yang terbuang juga sudah aku bayar penuh waktu beli lembarnya. Marginku ternyata jauh lebih tipis dari yang selama ini aku kira. Kotak potongan sisa di bengkel makin penuh tiap bulan, dibuang sayang, dipakai bingung.
Buku ini datang dari dua keputusan kecil yang mengubah cara aku berhitung. Pertama: tata acuan potong di atas lembar sebelum pisau menyentuh kulit, karena potongan yang sudah jadi sisa tidak bisa ditarik balik. Selisih keterampilan menata acuan saja bisa membuat beda pemakaian kulit tiga sampai delapan persen per sesi. Kedua: hitung rasio terbuang per lembar dan masukkan ke harga barang utama, karena berpura-pura sisa itu gratis tidak mengubah fakta bahwa uang untuk sisa itu sudah keluar dari rekening.
Tidak semua sisa perlu disimpan. Potongan yang terlalu kecil atau cacat lebih mahal diurus daripada nilainya. Tapi potongan yang masih layak itu bukan limbah; itu modal yang sudah kamu keluarkan dan bisa jadi gantungan kunci, tempelan kartu, atau barang kecil lain yang tetap bisa dijual.
Berguna untuk maker yang mau mengurangi bahan sisa kulit, menghitung rasio terbuang dan potongan terbuang secara jujur, menata acuan potong supaya waste kulit sekecil mungkin, dan memutuskan kapan barang dari sisa layak dijual atau cukup dibuang.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923