Aku pernah kirim dompet dengan tepi yang belum tuntas dipoles karena diburu tenggat. Pembeli kirimi foto closeup, dan aku tidak bisa membantah. Bukan karena tepinya jelek, tapi karena barang sebelumnya tidak begitu, jadi pembeli kaget. Itulah masalahnya: bukan soal satu barang cacat, tapi soal kualitas yang tidak bisa ditebak.
Pembeli memaafkan satu jahitan yang sedikit beda di barang buatan tangan. Tapi tidak memaafkan barang yang kualitasnya naik turun tanpa bisa ditebak. Kontrol kualitas untuk perajin bukan tentang mengejar sempurna, tapi tentang menetapkan batas cacat yang boleh lewat, lalu menahannya tiap kali barang keluar. Bekas luka sembuh, gigitan serangga, garis regang di kulit full-grain itu bukan cacat, itu ciri material. Cacat proses, finishing yang mengelupas, tepi yang belum dipoles, itu yang harus dicek sebelum barang masuk kotak.
Buku ini membahas empat titik yang paling sering bermasalah, cara menetapkan batas toleransi sendiri dan menjelaskannya ke pembeli, serta cara menulis standar yang bisa dipakai orang lain kalau usaha sudah mulai dibantu tangan tambahan. Standar yang cuma ada di kepala bukan standar, itu cuma perasaan.
Untuk perajin yang sudah punya pembeli tapi belum punya daftar cek, yang ingin tahu bedanya cacat dan ciri khas handmade, dan yang mulai membangun quality control kulit, standar kualitas, toleransi cacat, finishing kulit, dan konsistensi produk.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923