Aku belajar ini bukan dari buku teori. Aku belajar karena sepasang sandal pertamaku, yang kiri dan kanannya kupotong dari mal yang sama, dipakai pelanggan dan mengkomplain dalam tiga hari. Sebelum aku paham fungsi last, acuan kaki dari kayu itu, aku kira itu cuma alat bantu pembentukan. Ternyata dia yang memutuskan apakah sepatu itu nyaman atau menyiksa.
Buku ini menelusuri dari sepatu Areni-1 dari gua Armenia, 5.500 tahun kulit satu potong dijahit tali, sampai ke Cibaduyut yang mulai tumbuh dari industri rumahan sekitar 1920. Di antaranya ada pertarungan yang sering tidak disebut: jahitan welt yang bisa dibuka dan diperbaiki melawan lem yang sekali pakai selesai. Mesin lasting Matzeliger tahun 1883 bisa menghasilkan 150 sampai 700 pasang sepatu per hari, dibanding 50 pasang tukang tangan terampil. Harga turun separuh. Budaya perbaikan ikut turun bersamanya.
Buku ini bukan untuk kolektor. Untuk pengrajin yang ingin mengerti kenapa konstruksinya menentukan umur pakai, untuk penjual yang butuh penjelasan selain "ini kulit asli", dan untuk pembeli yang bosan diceramahi merek tanpa pernah diajari membaca sol.
Sejarah sepatu, cobbler, last sepatu, goodyear welt, alas kaki, kerajinan kulit, shoemaking: semuanya ada di sini, tapi bukan sebagai daftar istilah. Sebagai alat baca untuk menilai barang sebelum beli, atau sebelum bikin.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923