Selama berapa bulan pertama buka workshop kulit, aku beli bahan dari toko eceran di kota. Harga beda tiap datang, stok tidak bisa diandalkan, dan penjualnya tidak tahu beda grade A sama B. Puncaknya, ada hari di mana tiga pesanan masuk barengan dan bahan hampir habis. Tentu saja ini cerita yang banyak perajin kenal: terpaksa beli grade jelek dengan harga lebih mahal di tempat lain, rugi dari dua arah sekaligus.
Buku ini bukan tentang "cara cari supplier terbaik" seperti judul seminar. Isinya catatan konkret: gimana bedain kulit nabati dan split sebelum bayar (lapisan bawah yang dibelah sering dilapis grain cetak, kelihatan mulus tapi cepat ngelupas), kenapa hardware seperti kancing magnet atau ring ukuran tertentu bisa kosong berbulan-bulan dan harus distok lebih awal, dan gimana nyimpan catatan harga per belanja supaya kenaikan diam-diam langsung ketahuan.
Aku tidak punya sertifikasi penyamakan kulit. Yang aku punya adalah catatan dari bengkel sendiri selama beberapa tahun, kontak supplier yang nama dan jadwal datangnya aku tahu, dan beberapa kali nego yang gagal dulu sebelum tahu cara yang benar.
Untuk perajin yang masih beli kulit eceran per lembar, yang marginnya habis di harga bahan, atau yang mau mulai terima order lebih besar tanpa panik: soal supplier kulit, grade kulit, sourcing kulit lokal seperti Sukaregang atau Magetan, nego harga bahan, hardware tas, dan cara catat riwayat beli.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923