Bazaar itu bukan etalase. Kamu bayar sewa untuk membeli akses ke orang, ditambah transport pulang-pergi, sampel yang rusak dipegang, makan seharian, parkir, dan satu hari penuh tenaga yang tidak bisa dipakai produksi. Kalau angka itu tidak dihitung sebelum daftar, rugi tipisnya tertutup euforia ramai, baru ketahuan malamnya pas stok dihitung ulang di rumah.
Rumus impasnya sederhana: biaya tetap lapak dibagi margin per unit. Tapi yang susah bukan rumusnya, yang susah itu duduk sebentar sebelum transfer uang sewa dan tanya: berapa unit minimal yang harus laku? Dan realitanya, bazaar dekat food court ramai kaki tapi sedikit yang datang beli barang tahan lama seperti dompet kulit. Ramai kaki bukan ramai pembeli. Ini yang tidak kelihatan dari foto lapak teman di feed.
Buku ini ada karena aku butuh catatan yang bisa dibaca ulang sebelum daftar event berikutnya: titik impas lapak, cara menata meja biar orang berhenti bukan cuma lewat, kalimat pembuka yang tidak bikin pengunjung kabur, dan catatan pasca-event yang membantu pilih tiga event terbukti daripada sepuluh event yang cuma ramai foto.
Kalau kamu maker kulit yang sedang pilih-pilih bazaar mana yang layak, atau sudah sering ikut tapi rekening tidak naik, buku ini bicara soal titik impas lapak, sewa booth, jualan leathercraft, event kerajinan, catatan pasca-event, dan craft fair dari sudut pandang yang sudah pernah nombok.