Aku punya bengkel kulit kecil, dan bertahun-tahun aku menetapkan harga dengan cara menebak-nebak. Tidak ada acuan, tidak ada sesama pengrajin yang mau bicara soal angka, dan aku sering rugi bukan karena tidak bisa kerja tapi karena tidak tahu harga wajarnya berapa. Waktu aku mulai baca soal perkumpulan tukang lama, aku sadar mereka punya solusi untuk masalah yang sama, termasuk solusi yang bisa mengunci orang luar dan menahan inovasi.
Buku ini menelusuri bagaimana perkumpulan tukang bekerja: siapa yang boleh berdagang, berapa lama masa magang, apa yang harus dibuktikan sebelum naik jenjang, dan bagaimana harga disepakati bukan ditebak. Juga sisi gelapnya: Adam Smith di abad ke-18 sudah bilang monopoli guild menghambat perdagangan bebas, dan Revolusi Prancis akhirnya menghapus guild pada 1791 karena alasan yang sama. Aturan yang melindungi mutu dan aturan yang mengunci pintu sering kali aturan yang persis sama.
Buat pengrajin solo yang kerja sendirian dan menanggung semua peran, sejarah guild pengrajin, sistem magang, standar mutu kraf, dan perkumpulan tukang punya banyak yang bisa dipinjam, tanpa perlu romantisasi.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923