Itu masalah utama di banyak workshop kulit kecil: energi habis di nama dan logo dulu, sebelum barangnya sendiri konsisten dari order ke order. Warna tepi beda-beda tiap batch, jahitan kadang rapat kadang longgar, ukuran tidak pernah persis sama. Kemudian heran kenapa orang tetap menawar seperti barang pasar.
Aku jalankan workshop kecil untuk barang kulit buatan tangan, dan yang aku pelajari lebih dari apa pun: pembeli tidak mengingat logo, pembeli mengingat apakah barang keduanya sebaik barang pertama. Kalau konsisten, mereka yang cerita ke orang lain. Kalau tidak, tidak ada logo yang menyelamatkan. Buku ini bukan tentang desain visual, tapi tentang urutan yang benar: konsistensi barang dulu, lalu satu atau dua penanda khas yang dipertahankan, lalu logo kalau sudah ada yang pantas ditandai.
Untuk maker yang sedang membangun brand kulit buatan tangan, belajar branding handmade dari konsistensi produk, memilih penanda khas yang tahan lama, dan membangun citra brand kecil yang jujur dari cara kerja sendiri.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923