Bukan karena gulungan jelek. Tapi karena codex bisa dibuka di tengah, ditulisi depan belakang, dan lebih ringkas dibawa. Itu keunggulan teknis, bukan estetika. Peralihan itu butuh tiga abad, dan bentuk yang menang, tumpukan lembar terjahit di satu sisi, masih persis bentuk jurnal yang aku jual sekarang.
Aku pernah bikin jurnal dengan lembaran kulit tipis sebagai halaman. Hasilnya: begitu kena lembap pagi, lembar itu menggulung sendiri. Ternyata ini bukan masalah kualitas kulit. Perkamen, yang sudah jadi bahan halaman selama berabad-abad, memang begitu sifatnya. Orang lama tidak menghilangkan sifat itu; mereka menjepitnya dengan papan kayu tebal dan gesper logam supaya halaman tetap rata. Bukan solusi elegan, tapi itulah yang bekerja selama ratusan tahun sebelum kertas datang.
Buku ini menelusuri dua perpindahan itu: dari gulungan ke codex, dan dari papirus ke perkamen, dengan sumber yang bisa diperiksa. Bukan untuk membuat buku sejarah yang berat, tapi karena pengrajin jurnal, penjual, dan penghobi kulit perlu tahu kenapa parchment, vellum, codex, quire, bifolium, dan lembaran kulit berperilaku seperti yang mereka rasakan di tangan.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923