Dulu aku tidak tahu ke mana untungnya pergi. Catatan penjualan bagus. Order datang. Tapi rekening tipis terus. Baru belakangan aku sadar: sisa potongan kulit di kotak buangan itu uang yang sudah aku bayar lalu aku lempar. Barang gagal yang dijahit ulang makan dua kali ongkos kerja. Ongkir yang aku tanggung sendiri tiap kiriman memotong sekitar Rp 25.000 yang tadinya aku kira bersih. Semuanya tidak pernah masuk catatan.
Ini bukan soal harga jual kurang tinggi. Margin di kerajinan kulit mati bukan karena pembeli pelit, tapi karena ada belasan ongkos kecil yang tidak pernah dicatat: waste bahan, biaya kerja ulang, biaya admin marketplace, potongan pembayaran, waktu beli bahan, waktu balas chat, waktu antre di ekspedisi. Setengah hari kerjaku habis untuk urusan di luar menjahit, dan tidak satu sen pun dari waktu itu masuk ke harga.
Buku ini mendaftar satu per satu biaya yang biasa tidak dicatat, dan menunjukkan cara memasukkannya ke dalam harga sebelum menetapkan untung. Bukan rumus yang ribet. Hanya jujur mencatat apa yang benar-benar keluar.
Untuk kamu yang ngurusin margin kerajinan kulit, waste bahan kulit, biaya tersembunyi handmade, ongkos kirim ditanggung penjual, untung leathercraft, atau biaya kerja ulang, dan heran kenapa untungnya ga pernah kelihatan.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923