Itu pelajaran pertama yang tidak menyenangkan: perlindungan bukan urusan selera, itu urusan teknis. Kardus bergelombang punya lapisan gelombang di tengahnya justru karena gelombang itu yang menyerap benturan dan menahan tekanan tumpukan di ekspedisi. Amplop plastik tidak punya itu.
Tapi pelajaran kedua sama mahalnya. Aku pernah belanja kotak kaku, pita, dan kartu cetak sampai ongkos kemasan per barang menyentuh Rp 30.000. Tidak ada yang kasih tahu aku waktu itu bahwa Rp 30.000 itu keluar diam-diam dari untung, bukan dari harga jual. Satu dompet terjual, dan aku baru sadar ongkos kemasan belum dihitung dari awal.
Yang benar ada di tengah. Perlindungan tiga lapis itu dasar yang tidak bisa ditawar: pembungkus yang langsung menempel ke kulit, bantalan yang menyerap benturan, dan kotak yang menahan tekanan. Di atas itu, sentuhan yang menciptakan momen buka paket bisa seharga Rp 1.000 sampai Rp 2.000 saja: ucapan terima kasih tulisan tangan dan kartu cara merawat kulit. Pembeli merasa dihargai, dan kartu itu juga memangkas komplain soal kulit yang salah dirawat.
Buku ini untuk maker barang kulit yang belum pernah duduk dan menghitung ongkos kemasan sebagai bagian dari harga, yang pernah barangnya rusak di jalan, atau yang kemasannya seadanya dan pembeli tidak punya alasan memotretnya. Packaging produk kulit, kemasan handmade, perlindungan kirim barang, ongkos kemasan, momen buka paket, dan kartu perawatan kulit, semuanya ada dalam hitungan yang masuk akal tanpa harus membakar untung.