Ini bukan soal strategi atau konsep. Ini soal buku catatan yang aku biarkan penuh debu di laci. Nama-nama di sana sudah pernah percaya, sudah pernah pegang dompet atau ikat pinggang yang aku buat, dan aku malah sibuk bayar iklan supaya orang asing mau lirik tokonya. Biaya pembeli baru itu panjang: iklan, kepercayaan dari nol, harga diskon biar mereka mau coba. Pembeli lama tinggal disapa di waktu yang tepat.
Ada satu hal yang bikin bingung soal jualan kerajinan kulit nabati: barangnya awet. Dompet yang aku jual tahun 2022 masih dipakai pembelinya sampai sekarang, dan itu bagus untuk dia tapi membingungkan untuk aku. Gimana kasih alasan halal buat dia balik kalau barang lamanya belum jebol? Jawabannya bukan dengan membuat barang lebih cepat rusak. Jawabannya ada di jasa rawat, perbaikan jahitan, dan barang pelengkap seperti gantungan atau card holder.
Aku juga pernah takut menyapa pembeli lama karena merasa seperti tukang tagih. Diam saja. Sampai satu pembeli bilang dia justru senang diingat. Perbedaan menyapa yang merawat dengan yang mengganggu ternyata cuma satu hal: apakah kamu pernah minta izin sebelumnya. Minta izin satu kali di akhir transaksi pertama, dan sapaan berikutnya terasa diundang.
Buat maker kulit yang omzetnya naik turun, yang barangnya awet sampai bikin bingung, atau yang sungkan menyapa pembeli lama, buku ini soal retensi pelanggan, pembeli berulang, jasa rawat kulit, catatan pembeli, dan cara menyapa tanpa terasa spam itu satu hal: rawat orang yang sudah pernah percaya.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923