Aku buat keduanya di workshop sendiri di Cileungsi. Bukan teori. Bedanya cuma satu langkah: burnishing, teknik menggosok tepi kulit dengan gesekan dan kelembapan supaya seratnya memadat jadi halus mengilap. Langkah itu aku lewati di salah satunya, dan pembeli merasakannya sebelum aku sempat jelasin.
Banyak pemula menganggap produk jadi begitu jahitan selesai. Tepi veg-tan masih kasar dan berserabut sampai serat permukaannya dipadatkan. Tidak ada jalan pintas: harus ada kelembapan, gesekan, panas, dan urutan yang benar. Air saja kadang cukup. Gum tragacanth lebih tahan. Beeswax sebagai finisher mengunci serat jadi tahan air. Tapi kalau urutannya salah, hasilnya kusam atau belang.
Buku ini tentang satu langkah itu. Kenapa burnishing bekerja dari sisi fisik, media apa yang dipakai dan bedanya, alat mana yang masuk akal untuk pemula, bagaimana diagnosa tepi yang tidak keluar bagus, dan kenapa tepi yang dikerjakan serius jadi pembeda yang membenarkan harga lebih tinggi dari pasar.
Veg-tan, burnishing kulit, gum tragacanth, beeswax, slicker, leathercraft pemula, tepi kulit berserabut, kualitas tepi handmade.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923