Dalam Volume 2 ini, Ibrahim Anwar membedah anomali struktur ekonomi Indonesia di mana anak menjadi satu-satunya jaring pengaman sosial bagi orang tua. Melalui data yang menampar, buku ini menjelaskan fenomena "Double Squeeze": sebuah kondisi di mana biaya hidup meroket sementara gaji stagnan, memaksa 9,48 juta orang turun kelas dari menengah menjadi rentan miskin. Penulis mengungkap bagaimana narasi "Balas Budi" sering kali disalahgunakan sebagai alat kontrol emosional dan substitusi bagi kegagalan negara dalam membangun sistem pensiun yang inklusif.
Buku ini membandingkan secara tajam kebijakan Indonesia dengan model sukses di Jepang (Kaigo Hoken), Korea Selatan, dan Singapura. Anda akan memahami mengapa subsidi BBM dan bansos jangka pendek tidak akan pernah bisa memutus rantai kemiskinan struktural selama beban perawatan lansia sepenuhnya dibebankan pada pundak generasi produktif yang bahkan belum mampu membiayai masa depan mereka sendiri.
Ini bukan sekadar buku tentang angka; ini adalah izin bagi Anda untuk menetapkan batasan (boundaries). Dilengkapi dengan panduan konkret untuk memulai percakapan tabu mengenai uang bersama keluarga, Volume 2 adalah langkah krusial untuk memastikan Anda adalah generasi terakhir yang terjebak dalam siklus ini.
Keywords/Topics:
Generasi Sandwich; Sistem Pensiun Indonesia; Kelas Menengah Menyusut; BPJS Ketenagakerjaan; Ekonomi Indonesia; Hubungan Orang Tua dan Anak; Literasi Keuangan; Ibrahim Anwar; Hibranwar; Double Squeeze.
Ibrahim Anwar, yang dikenal sebagai Hibranwar, adalah seorang pengusaha dan penulis yang bekerja di persimpangan teknik, bisnis, dan konten. Ia memiliki latar belakang Sastra Belanda dari Universitas Indonesia, namun jalur kariernya berkembang ke arah yang lebih teknis dan strategis melalui peran kepemimpinan di PT Arsindo Integrasi Pompa dan PT Hibrkraft Kreasi Indonesia. Sebagai penulis, ia telah menghasilkan ratusan publikasi digital dengan pendekatan fungsional yang mengajak pembaca memahami pola sistemik. Melalui seri Generasi Sandwich, Hibranwar membedah dampak fenomena ini dari perspektif pelaku usaha yang menyaksikan langsung perjuangan finansial dan mental para karyawannya setiap hari.