Dalam "EKONOMI SUBSIDI: Mengapa Indonesia Membayar untuk Tetap Miskin", Hibranwar membongkar salah satu paradoks kebijakan publik terbesar di Indonesia. Buku ini menyatukan kepingan data yang selama ini terfragmentasi di berbagai laporan pemerintah dan lembaga internasional untuk mengungkap sebuah kenyataan pahit. Indonesia menghabiskan hampir satu kuadriliun rupiah, atau sekitar Rp 976 triliun, setiap tahunnya untuk gabungan subsidi energi, pupuk, transportasi, dan insentif pajak yang tidak dipungut (tax expenditure).
Namun, siapa yang sebenarnya menikmati uang sebanyak itu?
Hampir 40 persen subsidi BBM mengalir ke 10 persen rumah tangga terkaya.
Negara membayar Rp 33 triliun per tahun untuk kapasitas pembangkit listrik swasta yang menganggur dan tidak memproduksi listrik.
Triliunan rupiah hilang dalam inefisiensi distribusi pupuk yang sering kali gagal mencapai petani kecil.
Lebih dari Rp 530 triliun melayang dalam bentuk insentif pajak korporasi raksasa tanpa perdebatan publik yang memadai.
Angka subsidi energi ini saja setara dengan lebih dari 550 kali lipat seluruh anggaran riset nasional. Fakta ini menegaskan satu hal fundamental: Indonesia tidak miskin karena kekurangan uang. Indonesia miskin karena uangnya dihabiskan untuk mempertahankan sistem yang dirancang secara buta sejak awal.
Buku ini bukan sekadar kritik kosong atau manifesto anti subsidi. Penulis menyajikan analisis komprehensif tentang mengapa sistem subsidi berbasis harga selalu salah sasaran secara matematis. Lebih penting lagi, buku ini memaparkan jalan keluar yang sudah terbukti secara ilmiah dan praktis di berbagai negara seperti India, Brazil, dan Meksiko. Solusinya jelas, yaitu mengubah pendekatan dari mensubsidi produk fisik menjadi mensubsidi individu secara langsung melalui infrastruktur digital dan transfer tunai yang akurat.
Ditulis dengan gaya penceritaan yang lugas, tajam, dan sangat mudah dipahami oleh pembaca awam, buku ini membumikan angka triliunan makroekonomi ke dalam realitas tagihan listrik dan gas di dapur rumah tangga biasa. Ini adalah bacaan wajib bagi setiap wajib pajak, mahasiswa, pembuat kebijakan, dan warga negara yang lelah melihat anggaran negara bocor.
Saatnya kita memahami ke mana sebenarnya uang bangsa ini dialokasikan.
Hibranwar adalah nama pena Ibrahim Anwar — seorang pengusaha, penulis, penerjemah, dan penerbit independen asal Bogor, Indonesia. Ia mulai menulis sejak 1998, ketika buku pertamanya tak pernah selesai, dan api itu tak pernah padam. Kecintaannya pada buku dan menulis tangan melahirkan Hibrkraft pada 2011, sebuah usaha kerajinan jurnal kulit yang mengirim produk ke Jerman, Belanda, Kanada, hingga Australia. Bagi Hibranwar, jurnal kulit dan buku cetak adalah satu napas yang sama: medium untuk melestarikan tulisan.
Di luar dunia tulis-menulis, ia aktif di Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor dan KADIN Kota Bogor, karena baginya, ekonomi kreatif dan kepenulisan bukan dua dunia yang terpisah.
Sebagai warga negara Indonesia yang membayar pajak dan menerima subsidi, Hibranwar menulis buku ini dari posisi yang sama dengan pembacanya — frustrasi, tapi ingin memahami mengapa.