Aku tahu karena pernah bikin janji tiga hari ke pembeli dan molor jadi seminggu. Bukan karena lambat motong. Bukan karena lupa jahit. Tapi karena waktu nunggu lem kering dan pewarna meresap ga pernah aku hitung waktu nebak tanggal. Itu cerita karangan yang terlalu mirip dengan catatan bengkel asli.
Masalah yang sama juga bikin harga salah. Kalau harga jual cuma nutup bahan, tanpa upah jam kerja sendiri, makin banyak pesanan justru makin tekor. Sehari penuh ngerjain satu dompet dengan tarif yang tidak pernah dihitung artinya kamu kerja di bawah upah harian buruh, tapi di atas kebanggaan soal "handmade".
Buku ini praktis: pecah satu barang jadi tahapan terukur, ukur jamnya dengan jujur termasuk masa tunggu kering dan cadangan revisi, lalu masukkan upah jam ke harga. Habis itu baru boleh kasih janji tanggal ke pembeli. Maker yang sibuk tapi miskin biasanya bukan kurang pesanan, tapi tidak pernah menghitung jamnya sendiri.
Untuk kamu yang kerja di leathercraft, mau belajar estimasi waktu produksi yang jujur, ingin harga jual memuat upah jam kerja, dan capek janji ke pembeli meleset karena menebak dari ingatan bukan catatan tahapan kerja kulit.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923