Itu bukan trivia. Itu konfirmasi bahwa masalah yang sama sudah dipecahkan puluhan ribu tahun sebelum ada toko alat kraf: bagaimana caranya bikin lubang dan tarik benang tanpa sobek. Setiap alat yang sekarang dijual di toko, dari pricking iron sampai awl jahit diamond, punya silsilah panjang ke solusi-solusi itu.
Aku mulai bikin buku ini waktu tangan kiriku tertusuk awl sendiri untuk keempat kalinya dalam satu hari. Bukan karena alatnya jelek, tapi karena aku tidak paham cara kerja awl itu. Tidak tahu sudut yang benar, tidak tahu kapan harus berhenti dorong. Aku beli awl mahal dengan harapan masalah selesai. Masalahnya belum selesai, tangan kiri tambah berdarah. Buku ini lahir dari rasa penasaran: bentuk awl itu dari mana, dan kenapa bentuknya begitu?
Jawaban singkatnya: tiap alat jahit kulit adalah hasil seleksi bengkel selama berabad-abad, bukan desain satu orang di satu momen. Cara saddle stitch bekerja dengan dua benang di satu baris lubang bukan sekadar tradisi, tapi solusi nyata agar jahitan tidak terurai walau satu benang putus. Pricking iron dan stitching chisel adalah dua alat berbeda yang sering dikira sama karena namanya diadaptasi dari istilah perkakas kayu.
Kalau kamu menjahit kulit dan penasaran soal sejarah awl, pricking iron, saddle stitch, alat jahit kulit, dan teknik jahit tangan, buku ini bukan panduan beli alat, tapi penjelasan kenapa tiap alat berbentuk seperti yang ada sekarang.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923