Waktu kertas wove yang rata muncul sekitar 1756, laid langsung tersingkir jadi pilihan khusus. Bukan karena kalah performa, tapi karena wove lebih netral untuk cetak. Sejak itu, orang beli laid bukan karena butuh, tapi karena ingin sesuatu yang terasa berbeda waktu dipegang. Garisnya itu fosil mesin lama, bukan hiasan yang dibikin-bikin setelah era mesin.
Aku sendiri pakai laid di workshop buat endpaper jurnal kulit dan lembar pembuka undangan, bukan buat isi harian. Waktu pertama coba cetakan blok hitam pekat di laser, hasilnya belang sepanjang garis timbul, toner tidak menempel rata di puncak tekstur. Letterpress justru sebaliknya: tekanan malah memanfaatkan reliefnya dan hasilnya terlihat lebih mahal. Pelajaran yang tidak murah, tapi cukup jelas.
Buku ini ada karena pertanyaan yang sama terus muncul dari pembeli stationery: kenapa kertasnya bergaris, apa bedanya chain line dan laid line, pena apa yang nyaman di permukaan ini, dan kenapa cetakan digital sering kecewa. Jawaban-jawabannya tidak panjang, tapi perlu tahu konteks sejarahnya biar tidak salah pilih mesin atau salah jual ke klien.
Kertas laid, laid line, chain line, stationery premium, kertas surat, kertas sertifikat, letterpress, endpaper, pena fountain, arah serat.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923