Sifatnya memang begitu dari sananya. Pori terbuka, tidak ada lapisan grain yang keras, dan nap yang cantik di foto itu justru menyerap minyak, air, dan debu lebih cepat dari kulit licin mana pun. Aku pernah punya tas suede yang ketumpahan kuah di pojok, dan nodanya langsung permanen. Tidak ada yang bisa mengembalikannya.
Buku ini tidak melarang siapa pun pakai suede. Yang aku tulis adalah kapan suede masuk akal dan kapan kamu harus mundur sebelum kepalang produksi. Sarung jurnal, panel dekoratif, barang yang jarang dipegang dan jarang kena hujan, itu arena suede. Dompet harian, tali tas, sepatu kerja, sebaiknya cari bahan lain. Bedanya bukan soal selera, tapi soal titik gesek dan frekuensi kontak tangan.
Soal komplain, aku juga tulis di buku ini. Setelah aku mulai nulis di kartu produk bahwa noda air dan bekas tangan adalah sifat bahan, bukan cacat produksi, retur yang masuk berkurang. Pembeli tidak marah kalau ekspektasinya sudah diatur sejak awal. Mereka marah kalau mereka merasa dikadalin.
Buat pengrajin dompet kulit, pemilik bengkel kecil yang kena komplain, atau penjual material yang ingin jujur ke pembeli soal kulit suede, perawatan suede, nap kulit, suede vs nubuck, dan daya tahan kerajinan kulit, buku ini adalah catatan lapangan, bukan panduan gaya hidup.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923