Sigit adalah seorang suami yang berusaha setia, namun tekanan pekerjaan dan dominasi sang atasan, Ningsih, perlahan meruntuhkan akal sehatnya. Di balik dinding ruang kerja yang kedap suara, perintah profesional berubah menjadi godaan yang mematikan. Ningsih bukan sekadar bos wanita yang galak; ia adalah sang ratu manipulatif yang tahu persis bagaimana menaklukkan dan memperbudak hasrat bawahan prianya. Ketika batas antara kepatuhan kerja dan gairah terlarang dilanggar, Sigit mendapati dirinya tak berkutik di bawah kendali penuh sang atasan.
Di rumah, ada Wati—istri yang menanti dengan tulus dan penuh cinta. Namun di kantor, Sigit telah menjelma menjadi pion tak berdaya yang rela melakukan apa saja demi memuaskan Ningsih. Rasa bersalah yang menyiksa berpadu dengan candu dosa yang membutakan mata. Permainan kekuasaan ini tidak hanya berhenti di atas meja kerja, melainkan merayap masuk dan meracuni kehidupan pernikahannya. Saat dominasi Ningsih semakin tak terkendali dan menuntut penyerahan total, rahasia kelam ini bersiap meledak, menyeret ketiganya ke dalam pusaran penderitaan dan gairah yang tak terbayangkan.
Daya Tarik Utama Buku Ini:
• Dinamika Dominasi Atasan (Femdom): Eksplorasi berani tentang pertukaran kuasa di tempat kerja, di mana sang bos wanita memegang kendali penuh atas fisik dan mental bawahannya.
• Cinta Segitiga yang Menyakitkan: Konflik batin dan ketegangan psikologis ekstrem antara kesetiaan pada istri yang tak bersalah dan ketidakberdayaan menolak pesona mematikan sang penggoda.
• Skandal Dewasa yang Provokatif: Kisah perselingkuhan kelam yang mendobrak batas moral, menghadirkan adegan-adegan intens penuh adrenalin dan air mata.
Apakah Sigit mampu melepaskan diri, atau justru hancur dan tunduk sepenuhnya di bawah kaki sang ratu? Beli bukunya atau baca sampel gratisnya sekarang, dan saksikan sendiri akhir dari skandal perselingkuhan yang paling mendebarkan ini!
***
Di kantor, aku adalah ‘Si Silet’. Di apartemen ini, aku adalah predator. Dan malam ini, aku lapar. (Bab 1, Gairah di Ujung Lembur)
Kontol besar itu menyemburkan lahar panasnya jauh ke dalam rahimku , dan aku menelannya dengan rakus. Ini... ini baru permulaan. (Bab 2, Santapan Tengah Malam)
Wati sedang di puncak masa suburnya, dan aku, suaminya, malah akan pergi minum-minum demi atasanku yang galak. (Bab 3, Janji untuk Wati)
KRL terakhir ke Depok sudah lewat satu jam lalu. Aku terjebak. Aku terjebak di Kuningan. Bersama Ningsih. (Bab 4, Kereta Terakhir ke Depok)
Di luar jam kerja, jangan panggil aku ‘Bu’. Dan ini perintah: kau tidur di ranjang. (Bab 5, Perintah di Luar Jam Kerja)
Kau bilang jangan,” bisiknya, suaranya serak oleh gairah. “Tapi kontolmu sudah mengeras. Kau pembohong, Sigit. (Bab 6, Kontol yang Mengkhianati)
Keluarkan di dalam! Tembakkan peju-mu di rahimku ! Aku mau benihmu! (Bab 7, Tembakan di Dalam Rahim)
Cepat pulang ya Mas, Wati kangen mau ‘dibuahi’,” katanya polos. Aku baru saja ‘dibuang’ di dalam rahim wanita lain, dan kini istriku memintanya. (Bab 8, Panggilan Video dari Wati)
Lihat mataku, Sigit,” desisnya. “Aku mau kau lihat aku... menelan peju-mu . (Bab 9, Sarapan Pagi Penuh Dosa)
Rasa bersalahku sudah lama hilang, menguap, digantikan oleh satu hal: kecanduan. Aku kecanduan pada Ningsih. Pada perintahnya. Pada penghinaannya. (Bab 10, Kecanduan Si Bos Galak)
Foto selfie Bu Ningsih. Dia tersenyum sinis ke kamera. Wajahnya penuh dengan... dengan cairan putih . Sperma . Peju suamiku. (Bab 11, Aroma Parfum di Baju Mas Sigit)
Pilihan ketiga,” kataku pelan. “Kalau kau mau suamimu utuh... Kita bagi saja dia. (Bab 12, Pertemuan Tiga Arah)
Ini adalah ranjang baru kami. Ini adalah neraka baru kami. Dan aku... aku tidak yakin aku ingin pergi dari sini. (Bab 13, Ranjang Baru Kita)
***