Bagi Citra, jam kerja ekstra bukanlah tentang dedikasi pada perusahaan, melainkan panggung sempurna untuk mengeksekusi kebebasan liarnya. Sebagai manajer yang brilian, dominan, dan dihormati, Citra memiliki segalanya—termasuk kuasa untuk menundukkan pria mana pun ke dalam pelukannya. Dari bawahan muda yang naif hingga pria-pria lain yang terperangkap dalam pesonanya, semuanya hanyalah pion dalam papan catur kenikmatan yang ia susun rapi tanpa sepengetahuan tunangannya. Ia tidak merasa bersalah; ia justru merasa utuh menjadi ratu di istananya sendiri.
Novel romansa erotis dewasa ini membawa Anda menyelami pikiran seorang alpha female manipulatif yang mendobrak segala batasan moral. Tidak ada air mata penyesalan, yang ada hanyalah fantasi tabu yang dieksekusi dengan presisi tingkat tinggi. Ketegangan psikologis terbangun intens di setiap desahan rahasia, menguji seberapa jauh gairah dan perselingkuhan dapat disembunyikan di bawah kedok etos kerja korporat. Citra membuktikan bahwa kekuasaan sejati tidak hanya berada di ruang rapat, tetapi juga di atas ranjang.
• Dominasi Sang Alpha Female: Sudut pandang memikat dari seorang manajer wanita yang memegang kendali mutlak atas karier, tubuh, dan pria-pria yang memujanya.
• Romansa Kantor Ekstrem: Intrik office romance yang melampaui batas kewajaran, menyajikan ketegangan sembunyi-sembunyi yang memacu adrenalin.
• Eksplorasi Poliamori Terselubung: Dinamika manipulatif yang rumit antara seorang wanita dengan hasrat tak terbatas dan para pria yang bertekuk lutut padanya.
Sejauh mana Anda berani menyaksikan keliaran sang manajer meruntuhkan batasan moral yang ada? Buka dokumen rahasia ini sekarang, dan jadilah saksi dari lembur paling panas yang tak akan pernah Anda lupakan!
***
“Kamu harus tanggung jawab, Yogi. Kamu sudah bikin saya gantung. Sekarang... kamu yang harus selesaiin.” (Bab 1, Lembur yang Tak Biasa)
“Mulai sekarang... kamu anjing penjaga kesayangan saya. Jangan berani-berani lihat cewek lain, ngerti?” (Bab 2, Sanksi dan Dominasi)
“Benda itu berdiri kaku, menunjuk lurus ke langit-langit seolah menantang matahari pagi. Urat-uratnya menonjol jelas... sebuah monumen kejantanan yang minta disembah.” (Bab 3, Kejutan Pagi Hari)
“Ini bukan cuma pakaian dalam, Yudha. Ini senjata. Wanita pakai ini bukan buat kenyamanan... buat bikin laki-laki berlutut.” (Bab 4, Si Anak Baru yang Polos)
“Kadang kejujuran laki-laki yang... agak mesum... itu justru yang dibutuhkan buat jualan produk beginian. Lagian, saya baru tahu kalau kamu punya imajinasi seliar itu soal celana dalam.” (Bab 5, Presentasi dan Ukuran Pas)
“Dan dengan hanya satu tempat tidur di ruangan ini, aku yakin ‘Tembok Berlin’ yang kujanjikan tadi tidak akan bertahan lama.” (Bab 6, Satu Kunci, Satu Ranjang)
“Justru itu... seksi. Jarang banget ada cowok Jakarta yang masih ngejaga diri. Artinya kamu spesial. Kamu eksklusif. Berarti belum ada cewek yang pernah nyentuh kamu?” (Bab 7, Alkohol dan Kejujuran)
“Jangan ditutupin. Laki-laki itu harus bangga kalau dia sange. Sakit kan kalau ditahan terus? Sempit kan?” (Bab 8, Pelajaran Pertama Sang Atasan)
“Duniaku meledak. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan sensasi saat kepala kemaluanku menerobos masuk ke dalam liang senggama Mbak Citra. Rasanya seperti mencelupkan diri ke dalam magma.” (Bab 9, Eksplorasi Malam Panjang)
“Dia nggak ada di sini. Kamu yang ada di sini. Kamu yang lagi ngisi saya. Kamu yang lagi bikin saya enak. Genjot saya lebih keras. Bikin saya lupa kalau ada telepon bunyi.” (Bab 10, Dering Telepon yang Terabaikan)
“Kamu tau nggak, saya suka liat kontol kamu kejepit di sini. Kelihatan gede banget. Kayak mau ngebelah dada saya.” (Bab 11, Layanan Kamar Mandi)
“Ibu kayaknya seneng banget main sama mainan baru. Sampai lupa sama mainan lama yang jagain rumah.” (Bab 12, Tagihan Sang Satpam)
“Kamu tahu kan? Saya punya Yudha buat yang manis-manis. Buat dimanja. Tapi kamu... kamu itu buat kalau saya lagi pengen rusak. Kalau saya lagi pengen dihancurin.” (Bab 13, Shift Malam Kedua)
“Biarin berbekas. Biar semua orang tau Mbak abis dipake.” (Bab 14, Ronde Terakhir Sebelum Berangkat)
“Kamu bukan selingkuhan, Yudha. Kamu... kebutuhan. Tunangan saya itu masa depan. Tapi kamu... dan Yogi... kalian itu ‘sekarang’. Kalian itu darah dan daging.” (Bab 15, Konflik Batin dan Hasrat)
“Saya nggak butuh AC dingin. Saya butuh kehangatan. Dan saya suka tempat sempit. Lebih intim. Di sini, kamu nggak bisa lari kemana-mana.” (Bab 16, Rahasia Dua Pria)
“Kenapa harus memilih kalau aku bisa memiliki semuanya? Aku punya suami masa depan yang mapan. Aku punya kekasih yang memuja. Aku punya pejantan yang memuaskan. Rahimku mungkin kosong sekarang, tapi aku tahu, besok atau lusa, ia akan kembali penuh.” (Bab 17, Ratu di Istananya)
***