Niken terlihat memiliki segalanya: karir yang cemerlang dan Mas Dika, calon suami idaman yang penuh kasih sayang dan menjanjikan masa depan yang aman. Namun, rutinitas yang monoton dan bayang-bayang komitmen membuat jiwanya diam-diam meronta. Di tengah keraguan yang melanda, hadirlah Reza—rekan kerja dengan tatapan predator yang menawarkan pelarian gelap di balik kubikel kantor. Apa yang awalnya hanya sekadar godaan kecil dan tatapan mencuri-curi, dengan cepat tersulut menjadi pusaran gairah liar yang tak terkendali.
Terjebak dalam cinta segitiga yang menguras emosi, Niken kini menjalani kehidupan ganda yang mendebarkan. Di siang hari, ia mempertaruhkan segalanya untuk melampiaskan hasrat terpendamnya bersama Reza di sudut-sudut rahasia kantor. Di malam hari, ia kembali ke pelukan Dika, tersenyum sebagai wanita setia yang menanti hari pernikahan. Ketika batas antara cinta sejati yang menenangkan dan nafsu liar yang membutakan mulai memudar, mampukah Niken menyembunyikan cincin dustanya, atau akankah rahasia kelam ini menghancurkan kedua pria yang memujanya?
Daya Tarik Utama Buku Ini:
• Perselingkuhan Kantor yang Intens: Sensasi romansa terlarang (office affair) di balik meja kerja dan gudang arsip yang memacu adrenalin.
• Cinta Segitiga yang Menguras Emosi: Dilema psikologis memikat antara pria baik-baik yang menjanjikan rasa aman dan pria liar yang memuaskan hasrat terdalam.
• Eksplorasi Hasrat Tanpa Sensor: Adegan ranjang yang panas, posesif, dan penuh penyerahan diri yang dibalut dengan bumbu pengkhianatan manis.
• Ketegangan Psikologis (Cheating Trope): Pergolakan batin sang tokoh utama dalam menjaga rahasia kelam di ambang hari pernikahannya.
Jangan biarkan rasa penasaran Anda meronta. Baca sampel gratisnya sekarang dan saksikan sendiri siapa yang pada akhirnya berhasil menguasai hati dan tubuh Niken di penghujung malam!
***
“Malam ini, aku tidak akan pulang ke kosan sendirian. Malam ini, aku akan membayangkan wajah Mas Dika, mencium aroma maskulinnya dalam imajinasiku, sambil membiarkan tubuh orang lain memuaskan rasa sakit yang nikmat di antara kedua kakiku ini.” (Bab 1, Tatapan Lapar dari Kubikel Sebelah)
“Aku membayangkan Mas Dika yang sedang menindihku. Keringat yang menetes ke dadaku adalah keringat Mas Dika. Batang kokoh yang menggesek memekku adalah milik Mas Dika. Suara erangan berat di telingaku adalah suara Mas Dika yang memanggil namaku, bukan nama Mika.” (Bab 2, Jangan Bilang Dika, Kumohon)
“Tunggu aku, Mas Dika. Sebentar lagi... semua desahan ini, semua goyangan ini, dan semua rasa basah ini... akan jadi milikmu sepenuhnya. Hanya milikmu.” (Bab 3, Bayanganmu di Tubuh Lain)
“Kereta mulai bergerak perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan aku sendirian di peron yang kini sunyi senyap... Habis. Selesai sudah. Kakiku lemas. Aku jatuh berlutut di lantai peron yang dingin.” (Bab 4, Kereta Terakhir yang Tak Terkejar)
“Malam ini, Dika bukan lagi milik Mika. Malam ini, Dika bukan lagi senior yang berwibawa. Malam ini, Dika adalah milikku.” (Bab 5, Malaikat Penyelamat Berwajah Polos)
“Batas antara setia dan selingkuh setipis udara di antara bibir kami sekarang. Dan malam ini, pertahananku sudah serapuh gelas kaca yang retak.” (Bab 6, Di Balik Pintu Kamar Wangi Lavender)
“Lupain dia, Mas. Lupain cewek yang nggak ngehargain kamu itu. Malam ini... cuma ada aku. Cuma ada kita. Niken yang gila sama Mas. Niken yang basah cuma gara-gara liat Mas.” (Bab 7, Ciuman yang Menghapus Logika)
“Rasa percaya diriku sebagai laki-laki, yang selama enam bulan ini diinjak-injak oleh Mika, perlahan bangkit kembali. Ternyata aku bisa memuaskan wanita. Ternyata aku bukan pecundang di ranjang. Ternyata ‘barang’-ku bisa membuat wanita menjerit seperti ini.” (Bab 8, Eksplorasi Sang Junior)
“Setiap tusukan adalah pernyataan: Aku ada. Aku laki-laki. Aku milikmu.” (Bab 9, Penyatuan yang Terlarang)
“Pilih, Mas. Pilih dengerin ocehan sampah dia, atau pilih keluarin sperma Mas di dalem rahim aku sekarang?” (Bab 10, Dering Telepon di Tengah Erangan)
“Malam itu, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku tidur dengan nyenyak. Tanpa mimpi buruk dikejar deadline, tanpa gelisah memikirkan perasaan orang lain. Hanya ada tidur yang lelap dalam pelukan seorang wanita yang benar-benar menginginkanku.” (Bab 11, Mandi Berdua dan Ronde Kedua)
“Wanita itu... dia bukan sekadar pelampiasan. Dia adalah katalisator. Dia yang membukakan mataku bahwa aku berhak mendapatkan yang lebih baik. Dia yang memberiku keberanian untuk mengambil keputusan ini.” (Bab 12, Keputusan di Pagi Buta)
“Rahimku masih terasa hangat dan penuh, mengingatkanku bahwa aku bukan lagi seorang pengamat dari jauh. Aku adalah pemiliknya. Sekarang dan selamanya.” (Bab 13, Milikku Sekarang)
“Ini bukan bercinta. Ini pelampiasan nafsu murni. Ini adalah dua pendosa yang saling memakan daging satu sama lain.” (Bab 14, Reuni Rahasia Sang Pendosa)
“Tidak ada yang tahu bahwa di balik rok pensilnya, celana dalamnya basah oleh keringat pria lain. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum manisnya, ada rasa sperma yang masih tertinggal di ujung lidahnya... Reza adalah makan malamku yang kotor. Tapi Dika... Dika adalah rumah tempatku pulang.” (Bab 15, Pemuas Dahaga yang Tak Terkendali)
“Dika adalah milikku. Mika sudah jadi sejarah. Reza adalah rahasia kecilku. Dan aku? Aku adalah pemenang dari permainan ini.” (Bab 16, Cincin Pengikat Janji)
***