Itu bukan masalah mereknya. Itu masalah urutan. Pewarna kulit gagal dengan cara yang bisa diprediksi: penyerapan tidak rata bikin loreng, pewarna tidak dikunci bikin luntur, takaran tidak dicatat bikin warna antar batch jadi beda semua. Pewarna alkohol cepat kering dan tajam warnanya tapi cenderung mengakukan kulit; pewarna air lebih lembut tapi rawan belang kalau olesannya lambat; pewarna minyak meresap paling dalam tapi butuh waktu tunggu lebih lama.
Buku ini soal cara kerja tiap jenis pewarna, kenapa belang terjadi, dan kenapa langkah penguncian warna hampir selalu dilewati orang yang buru-buru. Ada satu hal yang dua tahun lalu aku tidak tahu sampai tangan aku menguning seminggu penuh: pewarna alkohol murah itu bau dan meresap ke kulit tangan kalau kamu tidak pakai sarung tangan di ruang yang tidak ada anginnya.
Untuk kamu yang mau warnai kulit nabati sendiri, yang warnanya pernah belang atau luntur, atau yang bikin satu seri produk tapi tiap lembar keluar cokelat yang beda: soal pewarna alkohol kulit, water-based dye, kunci warna, crocking, dan cara oles rata di kulit nabati, ini catatanku dari workshop sendiri.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923