Aku tahu ini karena aku pernah menghabiskan satu jam penuh menggosok tepi kulit krom yang bukannya mengilap malah makin berbulu, sampai akhirnya harus tutupin pakai edge paint Rp 55 ribu untuk menyelamatkan barang yang sudah setengah aku rusak sendiri. Itu bukan masalah kulitnya. Itu masalah aku yang memperlakukan krom seperti nabati.
Samak krom prosesnya selesai kurang dari sehari, memakai garam kromium(III) yang mengikat kolagen dengan ion jauh lebih kecil dari tanin nabati. Hasilnya lentur, tahan air, tersedia dalam banyak warna, tapi seratnya longgar dan terpisah. Waktu digosok untuk burnish, serat itu berbulu naik, bukan memadat. Teknik tooling dan ukir dari nabati tidak berlaku di sini.
Buku ini tentang menerima kekuatan krom di tempat yang benar: finishing tepi dengan edge paint lapis tipis dan amplas di antaranya, atau turned edge yang menyembunyikan tepi mentah dengan lipatan. Tentang kapan butuh interfacing supaya dompet tidak jadi kain lap. Tentang jarum kulit di mesin dan tegangan benang yang harus diturunkan dari setting kain. Dompet krom pertamaku lembek tak berbentuk karena aku lupa kasih rangka. Kulitnya tidak salah.
Untuk pembuat tas, penjahit yang pindah dari kain ke kulit, dan siapa pun yang barangnya masih lembek atau tepinya masih berbulu: kulit samak krom, edge paint, turned edge, interfacing, skiving, jarum kulit, temper kulit, jahit mesin.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923