Seseorang tidak membalas pesan, lalu kita merasa diabaikan. Sebuah rencana berubah, lalu kita menganggap semuanya akan berantakan. Kita merasa yakin terhadap sesuatu, kemudian memperlakukannya sebagai kenyataan. Pikiran yang semula hanya membantu membaca kehidupan perlahan mengambil alih kehidupan itu sendiri.
5 LAKU tidak mengajak kita berhenti berpikir. Buku ini justru mengajak kita belajar menggunakan pikiran tanpa menjadi pengikutnya.
Berangkat dari lima kalimat sederhana yang diwariskan Eyang Soeradjiman, yaitu ora mikir-mikir, ora nuruti opo sing dipikir, ora kesusu, ora gawe rugi awake dewe, dan ora gawe rugi liyan, Agung Webe membacanya kembali menjadi lima laku hidup: Pikiran Jernih, Pikiran adalah Alat, Jeda, Tidak Merugikan Diri, dan Tidak Merugikan Orang Lain.
Yang ditawarkan buku ini adalah cara sederhana untuk kembali melihat pengalaman dengan membedakan kejadian dari tafsir, memeriksa apa yang dipikirkan, memberi ruang sebelum menentukan, lalu melihat akibat cara kita hidup terhadap diri sendiri dan orang lain.
Setiap laku dilengkapi Ruang Laku, tempat pembaca mencobanya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Laku Jiwo tidak berhenti pada apa yang kita pahami. Ia harus bertemu kehidupan.
Agung Webe adalah penulis dan penggagas The Laku Jiwo Project, sebuah proyek intelektual yang mengembangkan cara berpikir mengenai hubungan antara realitas, pengalaman manusia, kesadaran, tafsir, pemaknaan, dan laku hidup.
Perjalanan penulisannya dapat ditelusuri sejak 2007 melalui pembacaan dan pemaknaan terhadap Serat Wulang Reh. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai karya yang bersentuhan dengan spiritualitas, pengalaman manusia, teks keagamaan, kebijaksanaan Jawa, kesadaran, dan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah karya yang lahir dalam perjalanan tersebut antara lain Soul Journey, Khotbah di Bukit, Laku Sederhana, Hening, Pulih dan Sadar, SUWUNG, 5 LAKU, serta Memaknai Serat Wulang Reh. Perjumpaan dengan berbagai teks, pengalaman, dan ruang dialog tersebut secara bertahap ikut membentuk cara berpikir yang kemudian dirumuskan lebih sistematis dalam The Laku Jiwo Project.
Melalui proyek tersebut, Agung Webe mengembangkan DNA Filsafat Laku Jiwo, Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo, Metodologi Berpikir Laku Jiwo, dan Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo. Arsitektur konseptualnya dirumuskan dalam The Laku Jiwo Project: Arsitektur Pemikiran Laku Jiwo, sementara istilah-istilah utamanya dihimpun dalam Kamus Konseptual The Laku Jiwo Project.
Salah satu wilayah pengembangan The Laku Jiwo Project adalah pembacaan terhadap teks keagamaan dan naskah kebijaksanaan. Dalam wilayah ini, Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo digunakan untuk mempertemukan teks dengan pengalaman manusia tanpa menjadikan penerimaan ataupun penolakan terhadap klaim metafisik sebagai syarat awal pemaknaan.
Bagi Agung Webe, sebuah kerangka pemikiran tidak perlu dipertahankan hanya karena telah dirumuskan. Ia perlu digunakan, diuji, dipertemukan dengan kritik dan pengalaman baru, serta terbuka terhadap koreksi. Karena itu, The Laku Jiwo Project ditempatkan sebagai proyek yang terus berkembang, bukan sebagai sistem pemikiran yang telah selesai.
Melalui buku-bukunya, ia mengajak pembaca bukan untuk menerima suatu pemaknaan sebagai kebenaran terakhir, melainkan untuk membaca dengan lebih jernih, menguji apa yang dipahami, dan melihat bagaimana sebuah pemaknaan memperoleh konsekuensinya dalam kehidupan.
Email: agungwebe@gmail.com