Islam sebagai Jalan Berserah membaca kembali Rukun Islam dan Rukun Iman melalui Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo. Pembacaan dimulai dengan membedakan pengalaman, teks, tafsir, pemaknaan, klaim metafisik, dan laku yang lahir darinya. Klaim mengenai sesuatu yang tidak dapat diperiksa bersama tidak buru-buru dibenarkan ataupun disangkal. Ia ditangguhkan agar manusia dapat melihat dengan lebih jernih apa yang sedang dipercayai, bagaimana kepercayaan itu dibentuk, dan akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan.
Di dalam buku ini, syahadat dibaca sebagai kesaksian yang menuntut komitmen. Salat mempertemukan pengalaman dengan laku yang dijalankan bersama. Puasa memberi jarak antara dorongan dan tindakan. Zakat mengusik rasa memiliki, sedangkan haji membuka perjumpaan dengan keluasan manusia. Pembacaan terhadap Rukun Iman menjaga Allah, malaikat, kitab, rasul, akhirat, serta takdir dalam bahasa tradisinya tanpa menggantinya dengan konsep psikologis yang terasa lebih mudah diterima.
Buku ini tidak menawarkan tafsir terakhir tentang Islam. Ia menyediakan ruang untuk memeriksa warisan religius tanpa kehilangan penghormatan, menjalani iman tanpa mengubah keyakinan menjadi kepastian yang memaksa, serta berserah tanpa melepaskan daya bertindak dan tanggung jawab.
Dalam buku ini, Islam sebagai jalan berserah tidak selesai pada apa yang manusia ucapkan tentang Allah. Ia diuji melalui apa yang manusia lakukan terhadap kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kuasanya.
Agung Webe adalah penulis dan penggagas The Laku Jiwo Project, sebuah proyek intelektual yang mengembangkan cara berpikir mengenai hubungan antara realitas, pengalaman manusia, kesadaran, tafsir, pemaknaan, dan laku hidup.
Perjalanan penulisannya dapat ditelusuri sejak 2007 melalui pembacaan dan pemaknaan terhadap Serat Wulang Reh. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai karya yang bersentuhan dengan spiritualitas, pengalaman manusia, teks keagamaan, kebijaksanaan Jawa, kesadaran, dan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah karya yang lahir dalam perjalanan tersebut antara lain Soul Journey, Khotbah di Bukit, Laku Sederhana, Hening, Pulih dan Sadar, SUWUNG, 5 LAKU, serta Memaknai Serat Wulang Reh. Perjumpaan dengan berbagai teks, pengalaman, dan ruang dialog tersebut secara bertahap ikut membentuk cara berpikir yang kemudian dirumuskan lebih sistematis dalam The Laku Jiwo Project.
Melalui proyek tersebut, Agung Webe mengembangkan DNA Filsafat Laku Jiwo, Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo, Metodologi Berpikir Laku Jiwo, dan Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo. Arsitektur konseptualnya dirumuskan dalam The Laku Jiwo Project: Arsitektur Pemikiran Laku Jiwo, sementara istilah-istilah utamanya dihimpun dalam Kamus Konseptual The Laku Jiwo Project.
Salah satu wilayah pengembangan The Laku Jiwo Project adalah pembacaan terhadap teks keagamaan dan naskah kebijaksanaan. Dalam wilayah ini, Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo digunakan untuk mempertemukan teks dengan pengalaman manusia tanpa menjadikan penerimaan ataupun penolakan terhadap klaim metafisik sebagai syarat awal pemaknaan.
Bagi Agung Webe, sebuah kerangka pemikiran tidak perlu dipertahankan hanya karena telah dirumuskan. Ia perlu digunakan, diuji, dipertemukan dengan kritik dan pengalaman baru, serta terbuka terhadap koreksi. Karena itu, The Laku Jiwo Project ditempatkan sebagai proyek yang terus berkembang, bukan sebagai sistem pemikiran yang telah selesai.
Melalui buku-bukunya, ia mengajak pembaca bukan untuk menerima suatu pemaknaan sebagai kebenaran terakhir, melainkan untuk membaca dengan lebih jernih, menguji apa yang dipahami, dan melihat bagaimana sebuah pemaknaan memperoleh konsekuensinya dalam kehidupan.
Email: agungwebe@gmail.com