Pemuda dan Konstelasi Indonesia Modern : Kumpulan Esai Multidisiplin

· · · ·
· Basya Media Utama
1 review
Ebook
187
Pages

About this ebook

Sebuah karya tulis anak muda yang dibukukan; membuat esensi dari tulisan tersebut semakin bermakna. Tulisan yang komprehensif membuat pembacanya mendapatkan pengetahuan baru untuk dirinya. Di era globalisasi sekarang jarang sekali anak muda yang bisa menulis apalagi dijadikan buku. Jujur saya lebih takut kepada seorang yang

pintar menulis dari pada pintar berbicara

Sebuah karya tulis anak muda yang dibukukan; membuat esensi dari tulisan tersebut semakin bermakna. Tulisan yang komprehensif membuat pembacanya mendapatkan pengetahuan baru untuk dirinya. Di era globalisasi sekarang jarang sekali anak muda yang bisa menulis apalagi dijadikan buku. Jujur saya leb...

Discover more

Ratings and reviews

1 review

About the author

Andi Muh Fathi Katsirun Nawal atau kerap dipanggil Andi Fathi lahir dari buah cinta pasangan suami istri Mohd. Husni dan Andi Nurjannah pada tanggal 9 Mei 2005 di Watampone, Sulawesi Selatan. Namun, kebersamaannya bersama kedua orang tua kandung tak lama. Ayahnya wafat pada saat ia masih berusia 2 tahun dan disusul oleh ibunya ketika awal masuk sekolah dasar yakni pada usia 7 tahun. Hal tersebut tak menghalangi Fathi kecil untuk tetap percaya diri dalam mengikuti berbagai event seperti olimpiade matematika, lomba puisi, dan lain-lain. Walaupun tergolong siswa berprestasi di sekolahnya, tak jarang ia juga melakukan kenakalan-kenakalan masa kecil seperti anak lain pada umumnya. Hingga momen yang paling krusial di hidupnya tiba, yakni melanjutkan pendidikan tingkat MTs di Pondok pesantren Al-Junaidiyah Biru Bone. Dari sana Fathi dididik menjadi remaja yang mandiri, sederhana, dan berakhlakul karimah oleh para ustadz dan ustadzahnya. Selain itu, dari pondok pesantren lah ia menemukan passion-nya yakni menulis.

Namun anehnya, untuk urusan cita-cita ia justru agak berbeda dibanding santri pada umumnya. Jika alumni pesantren identik dengan profesinya yang berpeci, ia justru terobsesi dengan profesi yang berdasi. Saat teman-temannya bermimpi untuk kuliah di universitas ternama di timur tengah, ia justru sangat ingin merasakan menjadi mahasiswa di negeri barat. Itu semua karena ia ingin menjadi pengusaha, politikus, penulis, dan motivator. Itulah sebabnya, semasa MTs ia lebih aktif di lomba-lomba akademik dan organisasi hingga mampu mewakili pesantrennya dalam olimpiade matematika tingkat kabupaten dan berhasil mendapatkan juara harapan satu. Serta di lain sisi ia juga berhasil menyelesaikan buku pertamanya yang berjudul “Sukses Bermodal Bodoh” yang ia tulis saat masih kelas 2 MTS dan sempat terpilih untuk menjabat sebagai ketua osis selama satu tahun.

Tamat dari bangku MTs, ia tetap memilih untuk tetap melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. SMK IT Teknologi Ibnu Qayyim Bone ia pilih sebagai salah satu latar tempat dari lanjutan cerita hidupnya. Pesantren tersebut menjadi saksi perjuangannya dalam menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sambil belajar komputer. Dan saat itu juga ia semakin sadar akan mimpinya yang terlalu naif jika ingin diraih dengan bersantai-santai ria. Akhirnya, ia semakin aktif mengikuti lomba dan event mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Alhasil, berkat usaha dan doanya serta dukungan dari kerabat ia berhasil mendapatkan juara 3 lomba karya tulis ilmiah se-Sulawesi Selatan dan juara 2 lomba esai tingkat nasional. Dan dari pencapaian-pencapaian tersebut, ia tentu merasa bangga dan semakin optimis terhadap mimpi-mimpinya. Namun tak lama setelah bersuka ria terhadap pencapaian yang baru saja ia peroleh, ia dihadapkan dengan situasi yang sangat berat dalam hidupnya. Penyakit yang diidap nenek yang selama ini merawat dan membiayainya semakin parah. Sang nenek bahkan harus berjalan dengan tangan alias kursi roda walau hanya untuk sekedar berpindah dari ranjang menuju ke toilet. Hal ini mengharuskan Fathi untuk selalu Stand By di rumah untuk merawat neneknya yang tak mungkin ia lakukan jika masih bersekolah di pondok.

Akhirnya, mau tidak mau ia harus meninggalkan dunia pesantren yang telah memberikan pengaruh yang besar terhadap dirinya selama ini. Untuk melanjutkan statusnya sebagai pelajar, ia memilih SMKN 7 Bone karena jaraknya yang sangat dekat dari tempat tinggal neneknya yang sakit. Cukup dengan berjalan kaki jika sewaktu-waktu sang nenek menelponnya untuk meminta bantuan di rumah saat masih jam sekolah. Menjalani kehidupan di sekolah baru dengan “budaya” yang jauh berbeda dengan sekolah lamanya tentu mengharuskan Fathi untuk beradaptasi. Namun, tak butuh waktu lama untuknya agar dapat kembali mengukir prestasi. Belum genap sebulan sejak pindah sekolah, ia berhasil mendapatkan juara 1 pada ajang pemilihan Kallolo Bone alias duta bagi para pemuda di Kabupaten Bone dalam upaya memajukan kebudayaan, pariwisata, dan lain-lain. Saat itu ia menyadari bahwa ia harus tetap meningkatkan usahanya dalam meraih mimpi di mana pun ia berada.

Saatnya mengamalkan seluruh ilmu yang ia dapatkan setelah hidup dalam dunia pesantren selama hampir 5 tahun. Saatnya berupaya memberikan manfaat bagi banyak orang sambil melanjutkan hidupnya yang sudah menjadi skenario tuhan yang entah akhir ceritanya seperti apa

lahir di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur, lebih tepatnya tanggal 4 November 2004. Aku sekarang merupakan mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Mulawarman. Aku memiliki ketertarikan di bidang hukum, politik dan ekonomi. Dalam hal ketertarikanku itu mendorongku untuk mengikuti beberapa lomba dan menjadi juara. Seperti, Lomba Duta Pelajar Sadar hukum, aku berhasil menjadi juara 3 di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, dan juara 2 Duta Pelajar sadar Hukum Kab. Berau 2021. Selain itu aku juga terpilih menjadi Duta Saya Anak Antikorupsi Kalimantan Timur dan menjadi Perwakilan Parlemen Remaja Kalimantan Timur. Namun, selain mengikuti beberapa perlombaan atau ajang, aku juga mengikuti beberapa keorganisasian. Seperti menjadi Presiden Siswa SMKN 1 Berau 2020/2021, Ketua Forum OSIS SMK Kalimantan Timur 2021, Founder Equal Education 2021, dan Wakil Ketua PARJA 2021. Ketertarikanku juga dalam bidang ekonomi membuat aku ikut lomba Akuntansi tingkat nasional tahun 2020

lahir pada tanggal 09 September 2004 di Negeri Ratu, Lampung. Saya anak pertama dari 3 bersaudara, menjadi anak pertama bukanlah hal yang mudah bagi saya. Untuk itu, sejak kecil saya dididik dan dilatih oleh kedua orang tua saya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berani serta tumbuh menjadi seorang anak yang dapat menjadi contoh bagi orang lain khususnya bagi kedua adik saya. Dengan dukungan dari kedua orang tua saya, semakin menumbuhkan semangat dan tekad saya untuk meraih keberhasilan. Sejak itu saya mulai mengikuti berbagai event dan ajang perlombaan yang dapat mengembangkan soft skill ataupun hard skill serta menyiapkan bekal ilmu dan pengalaman untuk masa depan. Berkat segala usaha yang dilakukan, Alkhamdulillah sedikit demi sedikit usaha saya membuahkan hasil yang cukup memuaskan dan dapat menjadi suatu kebanggan bagi saya dan keluarga. Semakin banyak event yang saya ikuti semakin banyak pula relasi, edukasi, serta teman-teman yang dapat menjadi motivasi bagi saya. Salah satunya dengan terbitnya buku ini merupakan hasil yang membagakan dimana saya dapat berkolaborasi dengan keempat partner yang saya jumpai dalam kegiatan Parlemen Remaja DPR RI 2021 lalu. Semakin ke sini saya semakin menyadari bahwa saya harus terus meningkat ke depannya, agar nantinya saya dapat memberikan seluruhbilmu yang saya punya kepada khalayak ramai. Serta agar kedepannya saya dapat menciptakan sebuah inovasi dan karya baru.

adalah mahasiswa Universitas Indonesia jurusan ilmu politik. Lahir pada 15 Februari 2004 dari pasangan Arief Cahyono dan Wahyuni Hidayati di Kota Pasuruan. Semasa hidupnya ia mendedikasikan diri sebagai penulis di samping manuver politik dan sosialnya yang aktif. Sejak kelas 6 SD ia menerbitkan buku pertamanya, hingga sampailah buku ini sebagai buku keenamnya.

Karier kepenulisannya didukung oleh kondisi sosialnya dimana Dafiq memiliki banyak relasi ke pejabat- publik dan tokoh publik yang mempromosikan karya-karyanya. Genre kepenulisannya adalah politik, sastra, filsafat, ilmu sosial, dan ideologi. Pada buku ini, Dafiq sebagai penggagas berkolaborasi dengan orang-orang hebat yang dikenalnya dari ajang intelektual, Parlemen Remaja 2021 dan Zulkifli Hasan Awards 2022. Semasa SMA-nya ia sudah menyelesaikan 30 lebih penelitian ilmiah dan menjadi risetor, di buku ini ia melahirkan pemikiran politik yang urgen. Dia juga penulis blog yang meliputi banyak topik menarik dan intens, tak lupa media-media yang menjadi peternakan pikiran Dafiq. Dafiq adalah orang publik yang berkepribadian introvert. Meski memiliki banyak sekali keterbatasan, tetapi ia hanya meyakini bahwa satu-satunya yang tidak terbatas adalah kemauan dan keyakinan akan mimpi dan aksinya.  

h putra pertama dari pasangan Lutfi Alharomain (ayah) dan Tuti Alawiyah (ibu). Azhar Zidane lahir di Indramayu pada tanggal 3 September 2004 tepat di hari jumat. Sejak kecil tinggal di Indramayu lalu memulai perjalanannya dengan tinggal di kota yang baru di kehidupannya yaitu Kabupaten Kuningan, sebuah kabupaten tepat dibawah kaki Gunung Ciremai. Zidan menempuh perjalanan baru saat dirinya mengemban pendidikan di salah satu sekolah di Kabupaten Kuningan yaitu SMP ITUS. Dari mulai tahun 2016-2019 bersekolah dengan sistem asrama sekaligus menimba pendidikan agama di sana membuat Zidan mulai lebih menganal dunia secara luas. Di sana Zidan fokus untuk mempelajari dan memperdalam agama dengan menghafalkan AlQuran dan juga qiroah. Tahun 2018 Zidan menjuarai Musabaqoh Hifdzil Quran tingkat SMP se-derajat se Kabupaten Kuningan dan membawanya mewakili Kabupaten Kuningan ke Provinsi Jawa Barat. Semangatnya dalam menghafal Al-Quran ia lanjutkan dengan mengikuti karantina tahfidz Al-Quran nasional, sebuah Yayasan yang dibawahi oleh K.H. Ahsin Sakho Muhammad yaitu ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an.

Kehidupannya pun berlanjut saat dia melanjutkan Pendidikan di SMA ITUS yang masih satu Yayasan dengan SMP-nya tersebut. Di dalam keadaan yang jauh dari orang tua dan selalu dalam kesederhanaan, Zidan pun memulai mimpinya untuk mencari jati dirinya di sekolah tersebut. Di awal kelas 10, Zidan terbilang anak yang sangat pendiam, sulit bersosialisai, bahkan bukan anak yang percaya diri atas kemampuan yang ia miliki. Banyak orang yang mengenal dirinya tersebut dulu adalah seorang anak yang apatis bahkan ia sendiri pun tidak tau apa yang bisa dirinya banggakan. Lalu dirinya pun memulai dengan mengikuti beberapa organisasi baik di tingkat sekolah hingga provinsi dan membuat dirinya terlintas “Kapan saya bisa menjadi seperti itu?”. Tentu, bagi zidan dapat bersosialisasi dengan orang banyak, berbicara di depan umum, memulai pembicaraan dengan orang baru adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Di SMA, ia akhirnya dipercaya menjadi ketua organisasi rohani dan menjadi titik awal bagi Zidan untuk keluar dari zona nyamannya tersebut. Zidan pun akhirnya menjadi pengurus di beberapa organisasi di tingkat daerah yang memaksa dirinya untuk bisa bersosialisasi dengan orang banyak. Pada tahun 2020, ia pun menjadi salah satu anggota di organisasi bernama Forum Pelajar Sadar Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 2021 ia resmi dikukuhkan menjadi Duta Hukum dan  HAM. Ketertarikannya pada isu sosial khususnya hukum dan politik dimulai dari sana, dengan berlatar-belakang keluarga yang berhubungan erat dengan politik dari mulai kakek hingga ibunya yang merupakan anggota dewan membuatnya mulai tertarik dengan isu dan kehidupan politik di Indonesia. Di tahun 2021, ia menjadi delegasi dari provinsi Jawa Barat dalam kegiatan Parlemen Remaja yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jendral DPR RI dan diamanahkan menjadi ketua dan juga mendapat predikat “peserta terbaik” pada kegiatan tersebut. Ia pun seringkali mewakili Provinsi Jawa Barat dalam beberapa kegiatan juga, seperti contoh lainnya pada Jambore Nasional Generasi Hijau yang diselenggarakan di kota Palembang, Sumatera Selatan. Dalam perjalanan hidupnya tersebut, ia selalu percaya bahwasannya hidup adalah sebuah proses mendaki gunung piramida yang sangat tinggi lalu saat kita sampai ke puncaknya tersebut kita akan melihat masih banyak gunung-gunung piramida lainnya yang lebih tinggi yang perlu kita daki.

Pada saat Zidan menulis buku ini, ia berusia 17 Tahun dan telah lulus di SMA nya tersebut dan telah menjadi mahasiswa baru di Universitas Brawijaya prodi Ilmu Politik. Menjadi orang yang bisa bermanfaat dan selalu memberikan pengaruh positif kepada sekelilingnya adalah tujuan hidupnya, melalui banyak kegiatan-kegiatan yang ia lakukan seperti aktif dalam organisasi, memberikan materi dalam bentuk materi-materi, hingga menulis buku ini adalah salah satu upaya Zidan untuk dapat memberdayakan dirinya untuk sekitarnya dan juga negara Indonesia. Melalui buku ini yang ia tulis bersama teman-teman hebat lainnya, ia berusaha untuk menuangkan pemikirannya dalam membahas problematika bangsa Indonesia ini yang menurutnya sangat kompleks dan perlu banyak pemikiran anak-anak bangsa dalam membahas hal ini. To get something we never had, we must do something we never did, menjadi acuan penulis dalam hidupnya yang berarti untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah kita dapatkan, kita perlu memikirkan dan berbuat sesuatu yang belum kita lakukan. Anak muda ialah pemimpin dimasa depan dan yang akan menjadi tonggak maju atau runtuhnya sebuah bangsa. Email : Muhammadazharzidane01@gmail.com Instagram: @zidaneazh

Andi Muh Fathi Katsirun Nawal atau kerap dipanggil Andi Fathi lahir dari buah cinta pasangan suami istri Mohd. Husni dan Andi Nurjannah pada tanggal 9 Mei 2005 di Watampone, Sulawesi Selatan. Namun, kebersamaannya bersama kedua orang tua kandung tak lama. Ayahnya wafat pada saat ia masih berusia ...

Rate this ebook

Tell us what you think.

Reading information

Smartphones and tablets
Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.
Laptops and computers
You can listen to audiobooks purchased on Google Play using your computer's web browser.
eReaders and other devices
To read on e-ink devices like Kobo eReaders, you'll need to download a file and transfer it to your device. Follow the detailed Help Center instructions to transfer the files to supported eReaders.