Colliding Stars: Epos Feminisme dan Sepatu Patriarki

·
Basya Media Utama
1 review
Ebook
256
Pages

About this ebook

Novel ini bukan saja hidup tetapi juga melampaui pertarungan sampai titik kritis antara paradigm feminis dan patriarki, dan kemudian hidup kembali untuk mencapai kesadaran tertinggi bahwa jatuh dan berputus asa bukanlah kenyataan yang dapat dibenarkan.


Dua sisi dunia dimana setiap kutubnya menetapkan idealism dengan wujud eksistensial yang bersinar, membentangkan jembatan berliku tajam demi membuat bintang-bintang itu berpelukan, padahal wajar jika meniscayakan bahwa kemesraan antara dua bintang itu merupakan kemustahilan, dan ternyata dipatahkan oleh harapan dan keajaiban. Jembatan penyatu itu adalah naskah eksotis sebagai produk pemikiran jenius dan perasaan selembut suara rumput di medan peperangan. Benar bahwa manusia adalah makhluk penuh kemisteriusan, tetapi rasanya tidak lebih misterius dari sintesis pemikiran, terkhusus nyawa pemikiran dan konsepsi kehidupan manusia dalam novel ini. Bukti nyata ketika dua bintang paradigm egoistik bertabrakan lalu menciptakan cahaya yang sangat terang dan penuh keindahan.


Novel ini bukan saja menyajikan abstraksi tanpa ujung, tetapi mengajak para pembaca untuk mendeteksi tali-tali pikiran homo sapiens yang tak kunjung habis dipersembahkan untuk dinikmati umat manusia. Melalui nafas sastra dan ilmiah dalam novel ini, ada harapan untuk penyatuan dunia. Bersatulah dan abadillah persatuan manusia.


Novel ini bukan saja hidup tetapi juga melampaui pertarungan sampai titik kritis antara paradigm feminis dan patriarki, dan kemudian hidup kembali untuk mencapai kesadaran tertinggi bahwa jatuh dan berputus asa bukanlah kenyataan yang dapat dibenarkan. Dua sisi dunia dimana setiap kutubnya menet...

Discover more

Ratings and reviews

1 review
Aliza Nurhaliza
July 2, 2026
blm baca
Did you find this helpful?

About the author

lahir yang pada 15 Februari 2004 di Kota Pasuruan adalah anak laki-laki sulung dari tiga bersaudara yakni Iqbal Rafie Febriansyah dan Achmad Zulki anak dari Arief Cahyono(ayah) dan Wahyuni Hidayati (Ibu). Dafiq berumur 17 tahun saat menulis buku ini dan duduk di bangku kelas Ilmu Pengetahuan Sosial SMA Negeri 1 Pasuruan. Dafiq sudah pernah menulis 2 buku berjudul Dornen Des Lebens saat kelas 6 Sekolah Dasar dan NICOM saat kelas 2 Sekolah Menengah Pertama, serta menghasilkan banyak karya tulis ilmiah, opini, esai, artikel, dan sejenisnya baik yang menang dalam berbagai kompetisi menulis maupun dipublikasikan oleh media publikasi. Sebagai pemuda, Dafiq telah mengikuti berbagai kegiatan berskala nasional, mengikuti kompetisi dan perdebatan, berpidato pada beberapa kegiatan akademis maupun kenegaraan, mengisi webinar dan mentoring kepenulisan.

Menghadiri simposium, observasi objek kesejarahan, menulis di kolom media publikasi dan beberapa universitas ternama, menggerakkan literasi, aktif berdiskusi dengan para pakar dan pejabat, berkontribusi di organisasi politik kepemudaan, dan pencapaian lainnya. Bagi Dafiq, membaca dan menulis adalah bagian dalam dirinya yang tak terpisahkan sebab itulah kebahagiaan Dafiq, apalagi ilmu sosial yang menjadi jiwa dari seorang Dafiq, dimana menunjukkan tendensi pada karya-karya filsafat politik dari Nietzsche, Hegel, dan Karl Marx, hukum, sejarah, sosiologi, dan ilmu negara, terutama pada buku Mein Kampf karya Adolf Hitler.

Dafiq selalu berusaha, tidak pernah menyerah, dan selalu rendah hati (tawadhu’) untuk terus produktif di keadaan kehidupannya yang sangat-sangat sulit. Dafiq adalah sosok inspiratif, keras kepala namun dermawan, misterius, dan lebih dari langka. Pekerja keras dan memiliki jiwa tangguh bahkan kebangkitannya dalam segala hal itu serta ide-ide cemerlang dan tak dapat dipungkiri lagi kesuksesannya dalam berpolitik serta memberi pengaruh besar bagi bangsa. Tulisannya berbobot memberikan makna luar biasa akan tiap poin penting dalam hidup manusia, hanya ialah yang dapat mengupas tuntas hal itu. Nantinya ia sangat dibutuhkan bagi kemajuan dan perkembangan bangsa maupun dunia.

lebih akrab dipanggil Nares yang dilahirkan di Bogor pada 29 Juni 2006. anak sulung dari Setyo Prabowo (Ayah) dan I Dewa Ayu Caaesaria Maharani (Ibu), adikadiknya namanya Nirwasita Ayu Prabowo, Nandhita Ayu Prabowo, dan Nitya Isyana Ayu Prabowo. Sekarang berumur 15 tahun yang sekarang duduk di bangku SMA Bogor Raya, Kota Bogor dulu pernah sekolah di TK Mutiara Nanggewer Mekar, lalu melanjutkan ke SD Taruna Bangsa Sentul, dan di SMP Bogor Raya, Kota Bogor.

Penulis dari buku antologi puisi pertamanya sendiri, Taman Gerimis dan novel, Aleonora; Penyelamatan Kristal Api. Ia juga adalah salah satu penulis di Antologi Puisi yang berjudul Puisi adalah Jembatan dan The Name of Mother. Ia sangat suka menulis (puisi dan cerita), membaca, programming dan berenang. Genre yang paling disukai adalah Fantasi, Aksi, Thriller dan Horror. Buat Nares, puisi itu bukan cuma karya sastra yang indah, tapi juga sarana buat mengekspresikan apa yang terpendam di pikiran. Dengan puisi dan cerita, ia bisa curhat, bercerita, menyampaikan unek-unek, dan menuliskan pengalaman. Biasanya puisipuisi dan ceritanya lahir dari hasil perenungan terhadap apa yang aku lihat, alami, dan rasakan. Lewat puisi dan cerita, ia dapat menemukan banyak makna dan pelajaran. Bukan hanya dalam menulis, namun Nares sudah ikut banyak kegiatan dan mendapat banyak prestasi seperti prestasi belakangan ini yaitu terpilih menjadi salah satu anggota parlemen remaja, mengikuti dan mendapat beberapa awards di MUN (Model United Nation) diantaranya pernah mendapat Best Position Paper, Vulnerable mention, most Outstanding delegate. Aktif dalam beberapa organisasi dan menjadi salah satu inti (pimpinan) organisasi tforgenz serta webinar. Menjadi salah satu scriptwriter di Podcast Theater di sekolah dan ia sering menyalurkan hobinya soal coding dengan membuat website dan masih banyak lagi. Serta beberapa prestasi internasional lainnya seperti pernah mengikuti Essay Competition.

Ia adalah seorang yang pekerja keras dan tidak pernah menyerah dalam aspek apapun serta untuk menjunjung mimpi terbesarnya adalah menjadi pengusaha sukses dan Computer Science. Nareswari adalah sosok yang legendaris, cantik baik luar maupun dalam, hangat, unik, serta sosok yang dibutuhkan oleh kemajuan dan pembaharuan. Sebagai perempuan, dia sangat humble meski ambisius, ceria meski serius, selalu setia tulus berkorban dan membantu, dan hatinya bagaikan langit yang terbuka. Sebagai penulis, Nareswari telah menyiratkan ide-ide dan pengaruhnya untuk dunia melalui frasa dan metaforanya yang kokoh, halus, dan spektakuler.

lahir yang pada 15 Februari 2004 di Kota Pasuruan adalah anak laki-laki sulung dari tiga bersaudara yakni Iqbal Rafie Febriansyah dan Achmad Zulki anak dari Arief Cahyono(ayah) dan Wahyuni Hidayati (Ibu). Dafiq berumur 17 tahun saat menulis buku ini dan duduk di bangku kelas Ilmu Pengetahuan Sosi...

Rate this ebook

Tell us what you think.

Reading information

Smartphones and tablets
Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.
Laptops and computers
You can listen to audiobooks purchased on Google Play using your computer's web browser.
eReaders and other devices
To read on e-ink devices like Kobo eReaders, you'll need to download a file and transfer it to your device. Follow the detailed Help Center instructions to transfer the files to supported eReaders.