Sarah hanyalah seorang karyawati biasa yang bermimpi tentang karier yang tenang. Namun, rentetan kesalahan administratif membuat surat pemecatan menggantung jelas di depan matanya. Sebagai ganti kerugian, Pak Galih—manajernya yang dingin, dominan, dan manipulatif—menawarkan sebuah "perintah dinas" yang tak masuk akal: menjadi model pakaian renang untuk perusahaan. Apa yang berawal dari jepretan kamera di studio tertutup, dengan cepat bermutasi menjadi permainan fiksi dewasa kelam yang meruntuhkan kewarasannya. Pak Galih tidak sekadar memotret; ia menelanjangi harga diri Sarah, menjeratnya dalam jaring eksploitasi dan gairah yang tak bisa ia tolak.
Di bawah kilat cahaya kamera, batas antara profesionalisme dan pelecehan melebur menjadi debu. Tubuh Sarah mungkin meronta, namun sentuhan mematikan dan bisikan beracun sang bos justru membangkitkan sisi gelap di dalam dirinya yang memalukan sekaligus memabukkan. Setiap kilatan lensa adalah borgol tak kasat mata, menawannya dalam dinamika kekuasaan yang kotor dan menggoda. Semakin Sarah berontak, semakin dalam ia terjerumus ke dalam skenario iblis berdasi yang menuntut penyerahan diri secara absolut.
Mengapa Anda akan tersesat dalam buku ini:
• Dinamika Kekuasaan yang Gelap (Dark Workplace Romance): Eksplorasi intens antara bos tiran manipulatif dan karyawati yang terjebak dalam permainan tanpa jalan keluar.
• Tensi Sensual Maksimal: Ditulis dengan narasi puitis dan evokatif, memaksimalkan ketegangan erotis dan emosional di setiap jepretan kamera.
• Perang Batin Psikologis: Menyelami keputusasaan protagonis yang tubuhnya mengkhianati logikanya, terombang-ambing antara rasa malu dan gairah liar yang membakar.
• Intrik Skandal Perusahaan: Mengungkap seberapa jauh seseorang berani memanipulasi otoritas demi memuaskan obsesi tergelapnya.
Sanggupkah Anda menyaksikan kehancuran yang begitu menggoda ini? Baca sampel gratisnya sekarang, dan rasakan sendiri ketegangan dari harga sebuah kesalahan yang harus dibayar lunas!
***
“Tepat sekali. Tubuhmu itu akan jadi aset perusahaan untuk sementara waktu. Anggap saja ini caramu membayar semua kerugian yang sudah kau sebabkan.” (Bab 1, Kesalahan Ketiga Kalinya)
“Ini bukan tatapan seorang atasan pada bawahannya. Ini adalah tatapan seorang pria yang sedang menelanjangi mangsanya dengan mata, dan aku adalah mangsa itu.” (Bab 2, Perintah Dinas di Balik Lensa)
“Ia menikmati ekspresi bingung dan ketakutan di wajah bawahannya yang polos itu, sambil terus meyakinkannya bahwa ini adalah hal yang wajar dalam industri.” (Bab 3, Pengarahan Pose yang Ganjil)
“Pikiranku menjerit, memberontak, dan ingin lari dari studio ini. Tapi tubuhku... tubuh pengkhianat ini... justru merespons dengan cara yang tidak kumengerti.” (Bab 4, Ikatan Profesional yang Melebihi Batas)
“Setiap penolakan dariku selalu dibungkamnya dengan dua frasa sakti: ‘perintah dinas’ dan ‘tanggung jawab’. Dua frasa yang terasa seperti rantai tak kasat mata yang mengikatku di sofa neraka ini.” (Bab 5, Uji Ketahanan Produk Paling Intim)
“Setelah acara ini sukses, setelah para klien puas dan menandatangani kontrak baru, anggap saja semua kesalahanmu di masa lalu lunas. Sepenuhnya. Kau bisa kembali menjadi karyawati biasa.” (Bab 6, Harga Sebuah Kesalahan)
“Aku bukan lagi Sarah, seorang karyawati. Aku adalah sebuah properti, sebuah objek yang harus dibagi dan dinikmati di depan kamera demi keuntungan perusahaan.” (Bab 7, Rekan Kerja Baru di Depan Kamera)
“Pikiranku mulai mati rasa, mencoba melepaskan diri dari tubuhku yang kini hanya dianggap sebagai properti pemotretan.” (Bab 8, Tiga Aktor, Satu Panggung)
“Pesta di Cisarua nanti akan menjadi sebuah mahakarya. Sebuah perayaan bisnis di mana ia tidak hanya akan mengunci keuntungan finansial, tetapi juga memamerkan piala penaklukannya yang paling indah di hadapan semua orang.” (Bab 9, Pesta Perayaan di Puncak)
“Aku seperti sepotong daging segar yang dilempar ke kandang singa lapar. Mereka mengelilingiku, tawa mereka terdengar riuh, obrolan mereka dipenuhi pujian-pujian cabul yang dibungkus sebagai sanjungan bisnis.” (Bab 10, Sajian Utama untuk Para Tamu)
“Mereka tidak hanya menodai tubuhku, mereka telah mencabut jiwaku hingga ke akarnya, meninggalkanku dengan cangkang kosong yang hanya bisa bernapas.” (Bab 11, Malam Panjang Sang Bintang Pesta)
***