Bukan karena tidak ada yang lebih modern. PVA sudah ada, lem botolan sudah ada, bahkan lem tembak sudah ada. Tapi konservator memilih wheat paste untuk pekerjaan yang harus bisa diperbaiki karena satu alasan konkret: pasta pati gandum yang dimasak benar bisa dibuka lagi dengan air bertahun-tahun kemudian tanpa merusak kertas. PVA tidak bisa. Itu saja. Tidak ada cerita romantis di sana.
Aku paham kenapa banyak yang kapok duluan. Di iklim lembap, wheat paste yang dibiarkan di suhu ruang bisa berjamur dan berbau apek dalam satu sampai dua hari. Itu bukan salahmu dan bukan resep yang salah. Dia memang makanan jamur. Tapi pasta yang disimpan di kulkas dalam wadah tertutup dan dihabiskan dalam tiga sampai lima hari itu masalah lain. Bisa berfungsi. Aku belajar itu sesudah beberapa batch basi sia-sia sebelum ngerti urutannya.
Buku ini tentang cara masak, takaran, aplikasi yang masuk akal untuk wheat paste, kenapa konservator memilihnya untuk lining dan hinge, kapan methylcellulose lebih cocok, dan cara mengelola umur pakai di iklim yang tidak bersahabat. Bukan teori, bukan sejarah panjang. Catatan bengkel.
Pembaca yang nyari panduan bookbinding klasik, lem reversibel, konservasi buku, wheat paste, methylcellulose, atau cara menyimpan pasta di iklim lembap akan menemukan jawabannya di sini.
Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.
Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.
ORCID: 0009-0006-0425-4923