Sejarah Chrome Tanning: Kenapa kebanyakan kulit di pasar sekarang krom, bukan veg-tan

· PT Hibrkraft Kreasi Indonesia
Ebook
56
Pages

About this ebook

Lebih dari 80% kulit yang dijual sekarang disamak krom, bukan samak nabati.


Bukan karena krom lebih bagus. Tapi karena sejak 1893, waktu Martin Dennis memperkenalkan proses satu bak, kulit bisa selesai dalam sehari. Veg-tan butuh berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Di sinilah kemenangan itu ditentukan: bukan di meja pengrajin, tapi di neraca pabrik.


Aku pakai keduanya di bengkel. Krom untuk tas dan jaket, veg-tan untuk sabuk dan tatahan. Dua kali aku salah beli bahan karena tidak paham kenapa keduanya beda perilaku. Kulit krom lentur dan tahan air karena kandungan bahan penyamaknya cuma 4% dari berat kulit; veg-tan sekitar 20%. Beda kandungan, beda sifat, beda kegunaan. Ini bukan soal mana yang lebih "asli" karena kulit krom sama-sama kulit hewan yang disamak dengan cara berbeda.


Persoalan lingkungan ada dan nyata: di Kanpur, India, ada sekitar 400 penyamakan yang pada 2013 membuang sekitar 79 juta galon air tercemar ke Sungai Gangga per hari, sementara kapasitas pengolahan kota hanya sekitar 45 juta galon. Buku ini tidak menutup-nutupi ini. Tapi juga tidak membesar-besarkan karena kalau tahu sejarahnya, masalah utama bukan kromnya melainkan ke mana airnya dibuang.


Bagi pengrajin yang bingung kenapa kulit krom tidak bisa ditatah, bagi penjual yang ditanya pembeli soal samak krom versus veg-tan, bagi siapa saja yang penasaran bagaimana satu metode samak bisa menggeser teknik berusia ribuan tahun melalui keputusan ekonomi bukan keunggulan mutlak: chrome tanning, wet blue, samak nabati, industri kulit, sejarah penyamakan, dan pilihan bahan yang sadar, semuanya ada di sini.



Lebih dari 80% kulit yang dijual sekarang disamak krom, bukan samak nabati. Bukan karena krom lebih bagus. Tapi karena sejak 1893, waktu Martin Dennis memperkenalkan proses satu bak, kulit bisa selesai dalam sehari. Veg-tan butuh berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Di sinilah kemenangan itu ...

Discover more

About the author

Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di workshop daripada di kantor.


Praktisi zettelkasten sejak 2019. Penulis lepas yang menerbitkan untuk pembaca yang ingin membaca dari operator yang punya skin in the game.


ORCID: 0009-0006-0425-4923



Ibrahim Anwar, dikenal sebagai Hibranwar. Praktisi yang menjalankan tiga bisnis di Indonesia: distribusi pompa industri, bengkel las dan engineering, dan workshop kulit buatan tangan. Berbasis di Cileungsi, Bogor. Menulis dari sudut pandang operator lapangan, bukan konsultan. Lebih nyaman di work...

Rate this ebook

Tell us what you think.

Reading information

Smartphones and tablets
Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.
Laptops and computers
You can listen to audiobooks purchased on Google Play using your computer's web browser.
eReaders and other devices
To read on e-ink devices like Kobo eReaders, you'll need to download a file and transfer it to your device. Follow the detailed Help Center instructions to transfer the files to supported eReaders.