Muhammed Gazi adalah panggilan sapaan internasional yang dimiliki oleh seorang pemuda kelahiran Tanjung Karang, Lampung. Kelahirannya yang bertepatan dengan gejolak reformasi yang masih amat tinggi yang ditandai dengan difusi berbagai kepemimpinan dan rezim membuat keluarganya yang memiliki afi liasi politik harus bisa beradaptasi dan mengikuti dinamisme panasdingin kekuasaan. Disertai dengan rasa penasarannya yang sangat besar sejak kecil membuat ia belajar banyak mengenai sistem sosial manusia yang sangat terpaut atas tindakan ekonomi, politik, ideologi pendidikan dan kebudayaan. Hal ini yang membuat ia jatuh cinta terhadap ilmu sosial humaniora untuk belajar bagaimana mencari dan mengungkap hakikat sejati kehidupan bermanusia. Ia mengerti sangat ilmu kemanusiaan mengambil peran sentral atas perubahan tatanan keilmuan lainnya. Tentunya dengan memulai penguasaan ilmu tersebut akan menjadikan ia dapat memberikan pengaruh dan menguasai seluruh aspek yang lain.
Namun dibalik kecintaannya tersebut ia memiliki tuntutan masyarakat untuk menguasai ilmu pasti berupa sains dan teknologi yang dinilai bukan hanya menjawab problematika terhadap dirinya tetapi juga terhadap masyarakat. Dengan kelebihan daya pikir yang ia miliki sejak kecil yaitu eksplorasi (mencari informasi), analisis (mengolah/ memecahkan informasi) dan produksi (menghasilkan informasi baru) tak heran ia mendapatkan berbagai penghargaan bertaraf nasional pada ajang olimpiade sains nasional sejak sekolah dasar. Kemudian karena keahliannya dalam memimpin dan memecahkan masalah yang merupakan hasil didikan ayahnya ia ditunjuk untuk aktif dalam berbagai kegiatan Pramuka Penggalang hingga tingkat nasional sejak usia dini. Keahlian yang ia miliki menjadi sebuah loncatan besar bagi dirinya. Ia telah merantau untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman baru sejak usia 12 tahun. Mengikuti prinsip Jawa adalah kunci, ia menaruh harapan besar untuk bisa menerima pendidikan di ibukota dengan baik. Nasib menentukannya untuk dapat melanjutkan sekolah di salah satu pesantren terpadu terbaik se-Indonesia. Di sana ia bukan hanya belajar agama tetapi juga akademik dan juga bagaimana bersosialisasi terhadap manusia. Maklum, ini adalah pengalaman pertama bertemu dengan manusia yang berasal dari penjuru nusantara.
Menempuh pendidikan SMP merupakan gerbang pertama pembukaan dirinya terhadap dunia. Dulunya ia adalah seorang yang amat pendiam, introvert dan menutup diri. Namun setelah berhasil mengamati perilaku sosial manusia selama tiga tahun dirinya mulai memiliki rasa penasaran yang amat tinggi dan mulai mencoba bergerak melakukan perubahan setelah bisa menghirup udara bebas dari otoritarian instansi. Walau ia tahu, otoritarian juga sengaja diberlakukan untuk membentuk mental peserta didik yang kuat dari berbagai terpaan tantangan hidup. Dan spekulasi tersebut ia buktikan kebenarannya sendiri setelah ia bersekolah di salah satu sekolah internasional terbaik di luar negeri. Keahlian berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris yang ia dapatkan di pesantren serta pendidikan akademik yang kuat menjadi faktor utama lain keberhasilannya menempuh pendidikan di luar negeri sejak usia 15 tahun. Tak ayal kecintaan dan rasa gengsinya terhadap agama membuatnya berhasil menghafal Al Quran dan mempelajari serta mulai mempertanyakan segala isi yang terkandung dalam Al Quran satu tahun sebelumnya.
Sebelumnya ia menaruh harapan besar untuk dapat bersekolah SMA terbaik se-Indonesia. Ia berhasil lulus, namun takdir membawanya jauh ke tenggara Eropa di kota yang dijuluki oleh Christopher Columbus sebagai ibukota dunia. Julukan tersebut sangat tepat mengingat Istanbul telah menjadi pusat peradaban dunia melalui berbagai bangsa yang telah memimpin selama lebih dari dua puluh abad. Akhirnya takdir mengubah nasibnya yang sebelumnya berniat untuk mengasah akademik yang lebih baik menjadi sebuah pencarian jati diri dan pengalaman luar biasa. Akhirnya rasa penasaran yang ia pendam selama tiga tahun meledak hebat mengakibatkan goncangan pada diri seorang remaja yang labil. Di satu sisi ia mempunyai pencapaian hebat tapi di sisi lain ia harus menahan segala tekanan dari berbagai sisi yang membuat ia seringkali down. Namun hasil manis perjuangan itu terbayar tunai ketika ia berhasil menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Republik Turki atas karyanya di bidang pengembangan teknologi (AI) artificial intelligence yang kemudian ia lanjutkan proyeknya sehingga dipilih dan berhasil menjadi project manager computer engineering yang diselenggarakan oleh Harvard University. Kemudian atas keahlian polymath yang ia miliki ia menguasai bidang lain pula. Ia mengurus dan memimpin banyak organisasi dan gerakan seperti perwakilan luar negeri untuk Parlemen Remaja DPR-RI, vice president of International Student Council, Chief of Model United Nation, Perhimpunan Pelajar Indonesia cabang Turki dan masih banyak organisasi lainnya yang sebagian besar bergerak di bidang pendidikan, sosial dan media informasi. Kemudian ia juga memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi terhadap lainnya yang membuatnya mengikuti banyak kegiatan aksi sosial sebagai volunteer. Ia juga merupakan seorang poliglot yang menguasai 6 bahasa dikarenakan lingkungannya yang memiliki keberagaman dari 70 lebih negara berbeda. Dari faktor-faktor tersebutlah yang menjadikannya dapat menemukan banyak titik dan menghubungkannya dengan garis yang ia buat yang dapat membentuk suatu jaringan yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Ini sejalan dengan tujuan hidupnya yang berusaha untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat. Salah satu aksi nyatanya ia mengisi banyak seminar, pelatihan, mengajar, membuat konten di sosial media hingga yang terakhir ia dapat menyelesaikan buku ini di usianya yang menginjak 17 tahun.
Dafiq Febriali Sahl atau akrab dipanggil Dafiq adalah anak pertama dari Pasangan Arief Cahyono (ayah) dan Wahyuni Hidayati (ibu). Dafiq lahir di Kota Pasuruan pada 15 Februari 2004. Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN Pekuncen lalu lanjut ke SMPN 1 Pasuruan yang sama-sama bekas sekolah Kolonial Belanda. Pada saat Dafiq menulis buku ini, Dafiq berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMAN 1 Pasuruan yang dulunya adalah sekolah Tionghoa (Tionghoa Hwee Kwan). Dafiq hidup dalam kehidupan yang sangat sederhana. Dari kesederhanaan itulah Dafiq menyadari bahwa kebahagiaan terletak pada bagaimana cara manusia menikmati perjuangan hidup. Perjuangan Dafiq yang jauh dari kemudahan baik finansial, fasilitas, mental, dan lingkungan telah mencetaknya menjadi pribadi yang kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas dalam menapaki langkah demi langkah hidupnya.
Kehidupan Dafiq menjalani prinsip Jawa yakni tetep (konsisten dan teguh), tatag (berani), dan tutuk (tuntas); nrimo ing pandum atau menerima pemberian (bersyukur). Sebagai anak remaja, Dafiq ingin menjalani karier sebagai teoritikus atau akademisi yang dia temukan dalam buku Mein Kampf karya Adolf Hitler. Paradigma berpikir Dafiq sangat jelas yakni nasionalis-sosialis (fasis) terlihat dalam 30 lebih karya tulis ilmiahnya di berbagai bidang ilmu sosial-humaniora, 1 buku
novel, 1 antologi puisi dan Cerpen, dan 2 buku ilmiah sebelum buku La Pensante. Kisahnya berlangsung sejak kelas 6 SD dimana Dafiq sudah mulai menulis sebuah buku berjudul “Dornen Des Lebens” yang berisikan tentang motivasi hidup dan moralitas agama setebal 100 halaman. Kemudian pada kelas 3 SMP, ia berhasil menulis buku politik pertamanya yang berjudul “NICOM” juga setebal 100 halaman. Di masa akhir SMAnya, Dafiq berjalan menukik untuk karier kepenulisannya. Selain mengikuti kegiatan politik berskala nasional, di bangku kelas 3 SMA Dafiq sekaligus menulis 2 buku yang ia tulis bersama-sama dengan temannya; novel yang berjudul “Colliding Stars” dan antologi puisi dan cerpennya yang berjudul “Runtuhnya Gezag”. Sampailah Dafiq di buku kelimanya yakni “La Pensante” yang ditulis dalam kurun waktu 3 bulan ini. Selain menulis, Dafiq juga hobi melukis yang ia geluti sejak kelas 1 SMP; lukisannya bergenre abstrak dan surealis. Bagi Dafiq perjalanan hidupnya adalah privasi terbesarnya, termasuk kegagalan dan keberhasilannya yang sangat dirahasiakan. Kepribadiannya yang sederhana dan tertutup telah membuka banyak lembaran sastra dan akademis sebagai tempat tumpahan hati dan pikirannya. Sebagaimana filsafat Nietzsche, sudut pandangnya yang melihat “Aku” atau “Diri” sebagai poros kehidupan membuatnya lebih bersikap idealis dan menjadi diri sendiri, Dafiq lebih mendengarkan suara dalam dirinya sendiri. Ia menolak eksistensialisme kehidupan dan lari pada esensialisme, tersirat dari ketertarikannya pada buku Also Sprach Zarathustra (Nietzsche), Fasisme (Hugh Purcell), The Prince (Niccolo Machiavelli), Dasar-Dasar Ilmu Politik (Prof. Miriam Budiardjo), Retorika (Aristoteles), The Republic (Plato), dan banyak lagi. Perjalanan panjang dan berliku adalah kebahagiaan, semua hanyalah proses dan bagaimana kemampuan kita berbuat yang “lebih baik” untuk masa sekarang.
Email: febridafiq@gmail.com, Instagram: republik_dafiq