Pada bagian awal, buku ini menjelaskan bahwa harga kebutuhan hidup tidak sepenuhnya dikendalikan negara. Produk lokal pun sering tetap bergantung pada bahan baku, mesin, energi, atau distribusi global. Akibatnya, ketika dunia bergejolak, masyarakat lokal ikut menerima dampaknya.
Pembahasan kemudian bergerak ke rumah tangga sehari-hari. Dapur keluarga modern ternyata berada di ujung rantai ekonomi dunia. Harga pangan, pupuk, energi, dan distribusi dipengaruhi keputusan yang tidak pernah dibuat rakyat biasa. Ketergantungan ini membuat biaya hidup mudah naik, namun sulit turun kembali.
Buku ini juga membahas ilusi kedaulatan ekonomi. Negara memang memiliki mata uang dan kebijakan sendiri, tetapi ruang geraknya tetap dipengaruhi kekuatan global. Pergerakan dolar, inflasi internasional, dan kebijakan suku bunga luar negeri dapat langsung memengaruhi pekerjaan, cicilan, serta daya beli masyarakat.
Di bagian berikutnya, pembaca diajak memahami PHK bukan sebagai awal krisis, melainkan gejala akhir dari tekanan ekonomi yang sudah berlangsung lama. Ketika margin usaha melemah, biaya meningkat, dan konsumsi menurun, perusahaan mulai melakukan efisiensi dengan mengurangi manusia.
Buku ini juga menyoroti konsumsi modern yang perlahan berubah menjadi tekanan sosial. Paylater, FOMO, budaya upgrade tanpa akhir, dan kehidupan digital membuat banyak orang membeli bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan psikologis dan sosial.
Selanjutnya, dibahas tentang rapuhnya kelas menengah modern. Pendapatan tetap sering kalah cepat dibanding kenaikan biaya hidup global. Tabungan melemah akibat inflasi, sementara risiko turun kelas ekonomi menjadi semakin nyata.
Pada bagian akhir, buku ini menawarkan cara bertahan di dunia yang terhubung dolar. Literasi keuangan, efisiensi hidup, pengembangan keterampilan, dana darurat, dan kemampuan beradaptasi diposisikan sebagai sistem pertahanan modern, bukan sekadar pilihan tambahan.
Secara keseluruhan, buku ini mencoba menunjukkan bahwa dunia bukan sekadar menjadi lebih mahal. Dunia sedang semakin saling terhubung, dan keterhubungan itu membuat kehidupan sehari-hari ikut bergerak mengikuti tekanan global.
Sigit Pramadi adalah penulis yang berfokus pada isu sistem ekonomi modern, ketergantungan global, transparansi, serta dampak struktur ekonomi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia terbiasa melihat persoalan bukan hanya dari gejala permukaan, tetapi dari hubungan antar sistem yang saling memengaruhi di baliknya.
Selama lebih dari 35 tahun berkarier di berbagai industri, mulai dari penerbangan, pasar modal, teknologi informasi, audit, telekomunikasi, hingga manajemen risiko, ia banyak berhadapan dengan pola yang sama: keputusan besar sering lahir jauh dari tempat dampaknya dirasakan. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap ekonomi modern, bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat sebenarnya sangat dipengaruhi sistem global yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Latar belakang pendidikannya di bidang informatika dan bisnis, termasuk gelar MBA dari Inggris, membentuk pendekatan berpikir yang sistematis, berbasis data, dan kritis terhadap narasi yang dianggap normal tanpa pernah dipertanyakan kembali.
Ia juga memegang berbagai sertifikasi internasional seperti CRISC (ISACA), BCCE (BCM Institute), dan ITLF (EXIN), serta sertifikasi teknis dari institusi global seperti Cisco, IBM, dan Oracle. Namun baginya, pemahaman terhadap pola jauh lebih penting dibanding sekadar angka dan gelar. Ia percaya bahwa krisis sering tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan di dalam sistem yang dibiarkan berjalan tanpa dipahami publik.
Melalui berbagai tulisan dan inisiatif yang ia bangun, Sigit berusaha menjelaskan bagaimana dunia modern bekerja sebenarnya, terutama hubungan antara ekonomi global, biaya hidup, pekerjaan, konsumsi, energi, dan tekanan yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap satu pertanyaan sederhana: mengapa hidup terasa semakin mahal, meskipun banyak orang bekerja lebih keras dari sebelumnya? Dari pertanyaan itu, ia mencoba menelusuri hubungan antara dolar, inflasi, energi, rantai pasok global, konsumsi modern, dan rapuhnya stabilitas ekonomi rumah tangga masa kini.
Ia tidak menulis untuk menciptakan ketakutan.
Ia menulis agar sistem yang rumit dapat dipahami manusia biasa.
Karena menurutnya, masyarakat yang memahami cara kerja sistem memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah dunia yang terus berubah.
Kontak & Referensi
Email: info@fpa-id.com
Website: www.fpa-id.com