Lena, perempuan tiga puluh tahun yang hidupnya tampak rapi dan terkendali, bekerja di sebuah perusahaan di Jalan Omega, Blok F-18. Di ruang kerja yang dingin dan penuh batas tak tertulis, ia belajar menjadi dewasa: profesional, bertanggung jawab, dan tahu apa yang pantas—termasuk apa yang seharusnya tidak dirasakan.
Namun ketika kebaikan hadir terlalu konsisten, dan perhatian datang di saat yang tepat, perasaan tumbuh tanpa pernah meminta izin.
Omega F-18 adalah kisah tentang mencintai tanpa memiliki, tentang kejujuran yang tidak selalu membawa kelegaan, dan tentang dilema sunyi antara merawat perasaan atau membunuhnya demi bertahan. Tanpa drama berlebihan, tanpa tokoh antagonis, novel ini menyusuri konflik batin seorang perempuan yang memilih menghadapi lukanya sendiri—dengan kepala tegak.
Sebuah cerita tentang luka yang tidak pergi, tetapi tidak lagi menguasai.
Bea Hana Siswati lahir di Mojokerto pada tahun 1990. Ia adalah seorang pendidik di salah satu universitas negeri di Jawa Timur yang memandang mengajar sebagai ruang perjumpaan—tempat akal, empati, dan kemanusiaan saling bertemu. Bagi Bea, pendidikan tidak semata tentang penyampaian pengetahuan, tetapi tentang kehadiran, kepekaan, dan kemampuan memahami manusia secara utuh.
Di luar ruang kelas, Bea menemukan makna dalam hal-hal yang berjalan pelan dan sunyi: musik yang didengarkan sendiri, buku yang dibaca tanpa tergesa, serta pengamatan sederhana tentang relasi manusia yang sering kali berlangsung dalam diam. Ruang-ruang hening itulah yang kerap menjadi titik awal proses kreatifnya.
Menulis bagi Bea adalah cara bertanggung jawab pada pengalaman batin. Ia menuliskan perasaan-perasaan yang sering kali hadir tanpa izin—tentang keterikatan yang tidak memiliki, batas yang dijaga dengan kesadaran, luka yang dirawat tanpa diumumkan, serta keberanian untuk tetap memilih yang benar meski terasa menyakitkan. Tulisannya tidak berangkat dari sensasi, melainkan dari kejujuran yang pelan dan reflektif.
Melalui Omega F-18, Bea ingin menemani para pembaca yang pernah berada di persimpangan antara perasaan dan tanggung jawab; mereka yang belajar mencintai tanpa harus memiliki, dan yang sedang berusaha berdamai dengan luka yang tidak pergi begitu saja. Bea percaya bahwa perasaan tidak selalu membutuhkan penyelesaian, bahwa diam pun bisa bermakna, dan bahwa cerita yang ditulis dengan kejujuran dapat menjadi ruang aman—tempat seseorang merasa tidak sendirian.
📧 beahana90@gmail.com