Gerimis Sembilan Februari adalah cerita tentang penyesalan, kehilangan, dan cinta yang datang terlalu terlambat untuk diperbaiki. Tentang seseorang yang dulu disia-siakan, lalu perlahan berubah menjadi kenangan paling sulit dilupakan.
Di antara hujan, malam yang sunyi, dan kenangan yang terus hidup di kepala, novel ini membawa pembaca menyusuri rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar selesai—tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sebenarnya hanya ingin dicintai dengan benar.
Sebab pada akhirnya, tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki.
Beberapa hanya hadir untuk mengajarkan kita cara mencintai dengan tulus… setelah semuanya terlambat.
Di balik nama Futami Rizuryu, ada seseorang yang lebih nyaman menyimpan perasaan di dalam tulisan daripada mengucapkannya secara langsung.
Ia percaya bahwa beberapa kenangan tidak benar-benar hilang. Mereka hanya berubah menjadi hujan, lagu, dan malam-malam sunyi yang datang tanpa permisi.
Melalui “Gerimis Sembilan Februari”, ia mencoba meninggalkan jejak tentang kehilangan, penyesalan, dan seseorang yang pernah menjadi rumah sebelum akhirnya berubah menjadi kenangan.
Karena terkadang, hal paling menyakitkan bukanlah perpisahan—
melainkan menyadari bahwa kita pernah memiliki seseorang yang begitu tulus… lalu gagal menjaganya.