Apakah kamu sulit bersyukur atas kehidupanmu sehari-hari ?
Apakah akhir-akhir ini kamu sulit merasakan kebahagiaan, walaupun kamu telah memiliki apa pun yang kamu butuhkan ?
Menjaga perasaan jauh lebih penting daripada meluapkan emosi terhadap hal-hal di luar kendali diri. Kita sering kali sulit menerima kenyataan yang tidak bisa diubah, seperti pendapat orang lain tentang diri kita atau kehilangan orang yang kita cintai.
Nah, melalui buku ini kita akan diperkenalkan pada konsep-konsep utama stoikisme yang diajarkan oleh Epictetus sehingga kita dapat belajar mengendalikan reaksi terhadap situasi yang berada di luar kendali kita. Ajaran kebajikan dari filsafat stoik ini memberikan panduan praktis untuk menjalani kehidupan yang lebih bijak dan damai.
Selamat merefleksikan diri dan menemukan kebahagiaan bersama stoikisme.
Epictetus adalah seorang filsuf Stoik yang lahir pada 55 M di Hierapolis, Phrygia (sekarang bagi-an dari negara Turki modern). Meski lahir sebagai budak, pada akhirnya dia memperoleh kebebasan dan menjadi salah satu tokoh utama dalam filsafat Stoik. Setelah merdeka, Epictetus pindah ke Roma dan belajar di bawah pengaruh filsuf Musonius Ru-fus. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ajaran Stoik, yang menekankan pada pengendalian diri, kebajikan, dan hidup selaras dengan alam. Ajaran-nya kerap kali berfokus pada pemahaman bahwa manusia tidak bisa mengontrol peristiwa eksternal, tetapi mereka dapat mengontrol respons mereka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.
Epictetus tidak pernah menulis ajaran-ajaran-nya, tetapi muridnya, Arrian, mencatat kata-kata dan ajarannya dalam dua karya utama, yaitu “Dis-courses” dan “Enchiridion” atau “Manual”. Epicte-tus menghabiskan sebagian besar hidupnya meng-ajar filsafat di Nicopolis, Yunani, setelah diusir dari Roma oleh Kaisar Domitian bersama dengan fil-suf-filsuf lainnya yang dianggap sebagai ancaman. Meskipun dia hidup dalam kondisi yang sederhana dan mempunyai fisik yang lemah, Epictetus berpe-ngaruh besar pada filsafat Barat dan diakui sebagai salah satu dari tiga filsuf Stoik utama, bersama de-ngan Seneca dan Marcus Aurelius. Ajarannya ten-tang kebebasan batin dan ketenangan jiwa tetap relevan dan dihargai hingga saat ini.