Cyndi mengira pemotretan eksklusifnya di Bali akan menjadi batu loncatan karier yang gemilang, namun yang menantinya di sana adalah neraka. Tanpa manajer yang melindunginya, ia jatuh ke dalam cengkeraman Fery, seorang produser manipulatif dengan obsesi gelap yang menakutkan. Terjebak di sebuah vila mewah yang terisolasi, Cyndi dipaksa menelan pil pahit berupa pemerasan keji dan pelecehan yang meremukkan harga dirinya. Fery mengira ia telah menaklukkan sang model, mengikatnya dengan rekaman skandal yang bisa menghancurkan masa depan kariernya serta cinta sejatinya bersama Rio yang menanti di Jakarta.
Namun, sang pemangsa salah memilih mangsa. Di titik terendah keputusasaannya, rasa takut Cyndi menguap, digantikan oleh amarah dingin yang membara. Menggunakan daya tarik erotisnya sebagai alat interogasi dan tubuhnya sendiri sebagai senjata, Cyndi membalikkan keadaan dalam sebuah permainan kekuasaan yang liar dan panas. Ia merancang sebuah dendam sempurna yang menyiksa sang produser baik secara fisik maupun psikologis. Cyndi membuktikan bahwa ia bukan sekadar objek pajangan di depan lensa, melainkan wanita tangguh yang siap mengklaim kembali hidupnya.
Daya Tarik Utama Novel Ini:
• Erotic Thriller yang Mendebarkan: Ketegangan psikologis yang memacu adrenalin, dipadukan dengan adegan-adegan panas tanpa sensor yang menguras emosi.
• Dendam Feminin yang Epik (Female Rage): Perjalanan luar biasa seorang penyintas yang memutarbalikkan manipulasi dan teror menjadi senjata pembalasan mematikan.
• Sisi Gelap Industri Hiburan: Eksplorasi berani tentang obsesi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pertarungan harga diri di balik gemerlap dunia hiburan.
• Romansa yang Menguatkan: Di tengah badai trauma, kekuatan cinta dan kepercayaan menjadi sauh yang menyelamatkan kewarasan sang karakter utama.
Beranikah Anda mengintip apa yang terjadi ketika sang mangsa berbalik menguliti pemangsanya? Beli novel ini sekarang dan rasakan sendiri ketegangan pembalasan dendam yang tak akan bisa Anda lupakan!
***
“Malam ini, tubuhmu adalah milikku. Aku ingin menghafalnya, Rio.” (Bab 1, Malam Terakhir di Kos Rio)
“Aku ingin kau mengingat rasaku, saat nanti kau jauh. Supaya kau tahu jalan pulang.” (Bab 2, Sembahan Pertama)
“Penuhi aku... Tolong, Rio... masukkan semuanya. Jangan sisakan apapun.” (Bab 3, Menembus Batas)
“Ada perasaan tidak enak yang merayap di tengkukku, sesuatu yang dingin dan licik, bernama Fery.” (Bab 4, Awal yang Buruk)
“Jangan kaku! Tunjukkan gairahmu! Kamu model atau mayat hidup? Jual fantasi itu!” (Bab 5, Sesi Foto Pertama (Pantai))
“Kita berbagi kamar malam ini. Lebih hemat biaya. Anggap saja ini bagian dari pekerjaan.” (Bab 6, Jebakan Kamar Villa)
“Buka kakimu lebih lebar! Bagus! Tunjukkan ‘Pusat Garis Memek’ itu! Itu yang menjual!” (Bab 7, Sesi Foto Pribadi)
“Di mana titik rangsangmu, Cyndi? Seorang model harus tahu cara menjual fantasi, dan untuk itu, kau harus merasakannya dulu.” (Bab 8, Minuman Terkutuk)
“Pacarmu akan sedih kalau kamu jadi pengangguran, kan? Jadi, dengarkan kata Produser. Jadilah gadis baik.” (Bab 9, Serangan Predator)
“Hentikan! Hentikan!” Jeritanku hanya terdengar sebagai bisikan di telingaku sendiri, tenggelam oleh tawa rendahnya. (Bab 10, Pemaksaan Brutal)
“Suara apa itu, Cyn? Kenapa napasmu berat?” Suara Rio terdengar sangat jauh, sementara neraka sedang terjadi di tubuhku. (Bab 11, Panggilan dari Neraka)
Dia tertidur. Dia tertidur lelap, mendengkur seperti babi, dikelilingi oleh bukti kehancuranku. Dia tidak tahu bahwa aku sedang melihat tali jubah mandi di pintu. (Bab 12, Predator yang Lelah)
Malam ini, predator itu akan menjadi mangsa. Dan aku yang akan memburunya. (Bab 13, Membalik Keadaan)
“AKUI!” desisku. “JAWAB! Atau aku cabut kontol ini dari memekku dan aku pergi begitu saja.” (Bab 14, Interogasi Siksaan Erotis)
Ini bukan untuknya. Ini untukku. Setiap hantaman adalah untuk setiap foto cabul. Setiap gesekan adalah untuk setiap detik video yang dia rekam. (Bab 15, Keadilan dan Klimaks)
Aku bukan lagi korban yang menangis di lantai kamar mandi villa. Aku adalah penyintas. Dan aku siap untuk bertarung. (Bab 16, Epilog: Cahaya Baru)
***