“Setiap kilometer yang kami tempuh terasa seperti satu langkah lebih dekat menuju sebuah jurang yang tak bernama.” (Bab 2: Perjalanan Penuh Duri)
“Satu kamar. Dua nama. Satu kunci. Di titik itulah aku sadar, tidak ada lagi jalan untuk lari.” (Bab 3: Satu Kunci untuk Dua Orang)
“Malam ini, di tengah gerah yang menyesakkan, ia akan memastikan gadis itu belajar, bahwa di dunia ini, kekuasaan adalah satu-satunya hawa sejuk yang nyata.” (Bab 4: Gerah yang Menjerat)
“Di bawah tatapannya yang penuh kemenangan, aku menggosok punggung pria yang kubenci itu, sementara air mataku jatuh tanpa suara, larut bersama uap air panas yang menyesakkan.” (Bab 5: Jebakan di Pemandian)
“Gelas-gelas itu bukan lagi berisi bir, tetapi racun. Racun yang perlahan-lahan melumpuhkan kewarasanku, menggerogoti pertahananku, dan membuka gerbang bagi iblis yang duduk di hadapanku.” (Bab 6: Gelas Penuh Racun)
“Setiap kilatan cahaya dari ponselnya adalah satu rantai baru yang ia ciptakan untuk mengikat Marshanda. Ini bukan lagi sekadar nafsu. Ini adalah penaklukan.” (Bab 7: Jepretan Lensa Iblis)
“Tubuhku berkhianat. Di bawah ancaman dan paksaan, ia merespon sentuhan iblis itu, mengirimkan gelombang kenikmatan haram yang membuat jiwaku menjerit ngeri. Itulah penghinaan yang paling puncak: klimaks dalam keterpaksaan.” (Bab 8: Harga Sebuah Kehormatan)
“Dan ketika ia menumpahkan cairannya di dalam rahimku, aku tahu bahwa sebagian dari diriku telah mati malam itu. Ada noda yang tidak akan pernah bisa hilang, bukan di atas seprai, tetapi di dalam jiwaku.” (Bab 9: Noda di Atas Seprai Putih)
“Ini bukan lagi sekadar pemerkosaan fisik. Ini adalah penghancuran mental yang total. Ia tidak hanya menodai tubuhku; ia sedang menyeret nama Yayan ke dalam lumpur yang sama, menodai cinta kami dengan kebohongannya yang paling keji.” (Bab 10: Panggilan dari Neraka)
“Marshanda yang ceria, yang penuh harapan, yang mencintai Yayan dengan sepenuh hatinya, telah mati di Puncak. Yang tersisa hanyalah cangkang ini.” (Bab 11: Benih Pahit yang Ditinggalkan)
“Dua garis merah muda yang tegas dan jelas. Sebuah vonis. Sebuah penegasan atas mimpi terburukku.” (Bab 12: Buah Terlarang dari Malam Terkutuk)
***
Bagi Marshanda, hidupnya nyaris sempurna. Ada Yayan, kekasih yang memujanya, dan karier yang sedang menanjak. Satu-satunya noda dalam kanvas indahnya adalah Pak Nando, atasannya yang tua, menjijikkan, dan selalu menemukan cara untuk membuatnya merasa rendah. Namun, sebuah perjalanan dinas ke resort terpencil di luar kota mengubah segalanya. Perintah kantor yang tak bisa ditolak itu menjadi awal dari sebuah malam yang akan merenggut semua yang ia miliki, satu per satu.
Di tengah keheningan alam yang seharusnya menenangkan, jebakan mulai terpasang. Sebuah kamar hotel yang panas dan pengap, dengan dalih ‘kesalahan pemesanan’, menjadi sangkar pertamanya. Terisolasi dari dunia, berdua saja dengan predator yang menyeringai lapar, Marshanda sadar bahwa ini bukan lagi soal pekerjaan. Gerah dari udara malam yang lembab bercampur dengan hawa nafsu yang pekat, menjeratnya dalam sebuah permainan di mana ia tidak pernah punya kesempatan untuk menang.
Ketika ia lengah, sebuah kilatan cahaya dalam gelap menyegel takdirnya. Sebuah jepretan kamera menjadi rantai yang mengikat lehernya, senjata pamungkas di tangan sang iblis. Sejak saat itu, tubuhnya bukan lagi miliknya. Setiap penolakan dibungkam dengan ancaman, setiap perlawanan dipatahkan dengan bisikan keji. Ia dipaksa menelusuri batas antara rasa jijik yang memualkan dan hasrat terlarang yang dibangkitkan secara paksa oleh sentuhan yang paling ia benci.
Malam itu, di atas seprai putih yang menjadi saksi bisu, ia tidak hanya kehilangan kehormatannya. Di tengah ritme hentakan yang memalukan, sebuah panggilan telepon tersambung. Suara kekasihnya yang tulus di ujung sana menjadi musik pengiring paling kejam dari penghancuran jiwanya. Ia dipaksa menjadi aktris dalam sandiwara paling bejat, sementara tubuhnya ditiduri tanpa ampun oleh pria yang sedang tertawa puas di atasnya.
Kini, fajar telah tiba, namun malam terkutuk itu meninggalkan jejak abadi di dalam dirinya. Sebuah benih pahit telah ditanamkan, sebuah rahasia kelam yang tumbuh di tempat paling suci. Akankah ia mampu menyimpan aib ini selamanya? Atau akankah buah terlarang dari malam itu menghancurkan satu-satunya cinta sejati yang pernah ia miliki?
Contents:
Awal Mula Petaka—1
Perjalanan Penuh Duri—17
Satu Kunci untuk Dua Orang—31
Gerah yang Menjerat—47
Jebakan di Pemandian—59
Gelas Penuh Racun—77
Jepretan Lensa Iblis—95
Harga Sebuah Kehormatan—107
Noda di Atas Seprai Putih—127
Panggilan dari Neraka—143
Benih Pahit yang Ditinggalkan—159
Buah Terlarang dari Malam Terkutuk—169