Terjebak di tengah dinginnya kabut Ranca Upas, batas antara pelindung dan pemangsa perlahan mengabur. Nico, seorang pria mapan yang seharusnya menjadi figur pelindung dalam keluarga barunya, mendapati dirinya tergelincir ke dalam jurang godaan yang tak tertahankan saat berhadapan dengan putri tirinya. Awalnya, Nico mengira ia memegang kendali penuh atas gadis yang ia anggap tak lebih dari "boneka" manis dan rapuh. Namun, di balik kepatuhan semu itu, tersimpan hasrat gelap dan manipulasi psikologis yang dirancang dengan sangat brilian.
Ketika skandal ayah tiri ini melewati batas yang tak termaafkan, permainan kekuasaan berbalik secara brutal. Sang boneka kini menjadi dalang yang memegang kendali atas kewarasan dan reputasi tuannya. Di balik dinding rumah dan topeng keluarga bahagia, sebuah ancaman manis memaksa Nico bertekuk lutut, menukar setiap inci otoritasnya demi seteguk kenikmatan. Mampukah seorang pria dewasa selamat dari kehancuran ketika ego, keluarga, dan masa depannya berada di ujung jari seorang gadis yang menuntut penyerahan total?
Mengapa Anda akan terpikat dengan kisah ini:
• Tabu yang Menghancurkan: Rasakan ketegangan ekstrem dari sebuah skandal terlarang yang mendobrak batas moralitas keluarga dan norma sosial.
• Pembalikan Kuasa yang Intens: Saksikan transformasi memukau dari seorang korban keadaan menjadi manipulator ulung yang menjadikan sang dominan sebagai tawanannya.
• Ketegangan Emosional Mematikan: Eksplorasi gelap tentang pemerasan psikologis, rahasia keluarga, dan gairah yang menyiksa di balik layar kesempurnaan.
Beranikah Anda mengintip ke balik pintu ruang ganti dan menyaksikan bagaimana seorang penguasa dihancurkan oleh hasratnya sendiri? Baca sampel gratisnya sekarang, atau miliki buku ini untuk menikmati setiap detik dari skandal yang tak termaafkan ini!
***
Malam itu, di tengah badai Ranca Upas, aku belajar satu hal: aku memiliki kuasa untuk memberikan kenikmatan, meskipun aku masih mempertahankan benteng terakhirku. Setidaknya, untuk malam ini. (Bab 1, Dingin yang Membakar di Ranca Upas)
Malam itu, di Ranca Upas, benteng pertahananku bukan hanya roboh. Benteng itu hancur lebur, digantikan oleh fondasi baru bernama hasrat yang telah dibangunkan, yang kelak akan membawaku pada petualangan yang jauh lebih gelap dan liar dari ini. (Bab 2, Robohnya Benteng Pertahanan)
Seharusnya aku malu. Tapi, kejadian semalam telah mengubah sesuatu di dalam otakku. Melihat benda itu tegak sendirian, ada rasa lapar yang tiba-tiba menyergap perut bawahku. Rasa penasaran yang bercampur dengan gairah liar. (Bab 3, Kejutan Keras di Pagi Buta)
Namun, insting purbaku—insting betina yang pernah dibangunkan oleh Beni di hutan pinus setahun lalu—mengatakan sebaliknya. Ada bahaya di rumah ini. Bahaya yang terbungkus rapi dalam setelan jas mahal dan senyum ramah. (Bab 4, Topeng Sempurna Keluarga Bahagia)
Miki itu cuma tiket masuk, Ayu. Tiket masuk supaya Ayah bisa menjadi ‘ayah’ buat kamu. Supaya Ayah bisa tinggal satu atap sama kamu. Supaya Ayah bisa melihatmu tumbuh... dan memetikmu saat kamu sudah siap. (Bab 5, Makan Malam Tanpa Menu Utama)
Ini pengkhianatan. Tubuhku mengkhianatiku. Bagaimana bisa aku merasa takut setengah mati, tapi di saat yang sama, aliran listrik nikmat menyambar-nyambar dari selangkanganku ke seluruh saraf tubuhku? (Bab 6, Pengkhianatan Tubuh yang Basah)
Jika aku memang harus menjadi boneka rusak agar Ibu bahagia... maka aku akan menjadi boneka rusak yang paling cantik dan paling memuaskan yang pernah dimiliki Ayah. (Bab 7, Boneka Cantik yang Rusak)
Dan siang itu, di kamar nomor 203, aku memutuskan untuk berhenti menjadi korban. Aku menjadi pelaku. Pelaku atas kenikmatanku sendiri. (Bab 8, Pelarian Sementara ke Masa Lalu)
Ternyata tubuhku ini bukan sekadar onggokan daging untuk dipakai orang tua bangka. Tubuhku ini senjata. Dan aku baru saja belajar cara menembakkannya. (Bab 9, Rasa Lapar yang Tak Terbendung)
Aku bukan lagi kelinci yang gemetar. Aku adalah serigala betina yang baru saja pulang dari perburuan yang memuaskan. Sisa-sisa aroma tubuh Kak Beni masih menempel di kulitku, mengingatkanku bahwa tubuhku adalah milikku. (Bab 10, Kembali ke Sangkar Emas)
Malam ini, permainannya adalah ‘Kejujuran’. Tapi sebelum kita mulai, Ayah harus janji buat nurut. Seratus persen. (Bab 11, Ratu di Atas Raja)
Akhir yang bahagia—setidaknya bagiku—adalah ketika sang putri berhasil menjinakkan naga itu, memasanginya rantai emas, dan menjadikannya peliharaan yang bisa menyemburkan api kapan pun sang putri kedinginan. (Bab 12, Senyum Kemenangan di Balik Pintu)
***