Lina, seorang karyawan yang hanya ingin bekerja keras demi bertahan hidup, tiba-tiba mendapati dirinya terperangkap dalam jebakan finansial yang dirancang secara licik oleh atasannya sendiri. Dituduh melakukan kesalahan fatal yang bisa menghancurkan masa depannya, Lina dihadapkan pada satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan sang manajer. Sayangnya, hutang tersebut tidak bisa dilunasi dengan lembaran uang, melainkan melalui kompensasi tubuh dan kepasrahan total di balik pintu kantor yang tertutup.
Tempat kerja kini berubah menjadi arena penyiksaan mental dan fisik di mana setiap jam lemburnya adalah cicilan dari sebuah dosa yang tak pernah ia perbuat. Di tengah keputusasaan yang mengikis harga dirinya, Lina harus bertahan dari manipulasi sang predator berjas rapi. Namun, ketika batas antara penyiksaan dan gairah mulai kabur, sebuah kehadiran tak terduga muncul dari balik bayang-bayang, menawarkan cinta sekaligus jalan keluar yang sama berbahayanya dengan jerat sang manajer.
Mengapa Anda akan terpaku membaca buku ini:
• Skandal Pemerasan di Tempat Kerja: Menyelami teror psikologis saat otoritas disalahgunakan untuk merenggut kehormatan dan kebebasan seorang bawahan.
• Kompensasi Ekstrem (18+): Menghadirkan adegan-adegan steamy dan kelam di mana hutang dibayar melalui penyerahan diri yang menguras emosi dan memacu adrenalin.
• Cahaya di Ujung Putus Asa: Hadirnya sosok penyelamat tak terduga yang membawa romansa panas, mengoyak batas moral, dan memicu aksi balas dendam yang menegangkan.
Sanggupkah Lina melunasi hutang kehormatannya dan membebaskan diri dari jerat manipulasi ini, atau ia akan hancur sepenuhnya? Buka halaman pertama sekarang dan rasakan sendiri debaran jantung dari setiap cicilan hasrat yang harus ia bayar!
***
”Suara itu. Suara bariton yang dalam dan familier. Suara yang sudah tiga tahun ini hanya kudengar dalam mimpi atau lamunan.” (Bab 1, Pertemuan di Ujung Malam)
”Aku menggenjotnya tanpa ampun. Vaginaku berdenyut-denyut, menjepit batang penisnya. Aku tahu aku akan klimaks lagi.” (Bab 2, Pelampiasan yang Tertunda)
”Saat beranjak ke kamar mandi, dia kembali dan melihat ‘kejantanan’ Yazid yang tidur tadi, kini terbangun, ereksi keras menantang pagi. Gairahnya terbakar lagi.” (Bab 3, Realitas Pagi)
”Saat itu, aku hanya menganggapnya sebagai keramahan bos yang sedikit canggung. Tidak ada niat buruk. Tidak ada ancaman. Dia hanya pria paruh baya yang baik hati dan mungkin sedikit kesepian.” (Bab 4, Bos Baik Hati)
”Sumpah tidak ada artinya di depan polisi, Lina.” (Bab 5, Amplop Cokelat Sialan)
”Setiap kancing yang terlepas terasa seperti satu lapisan harga diriku ikut terkoyak. Mataku terpaku pada lantai, tak berani menatap wajahnya.” (Bab 6, Bukti Ketidakbersalahan)
”Ini jebakan. Dari awal, ini adalah jebakan. Tidak pernah ada uang yang hilang. Yang ada hanyalah monster ini yang menginginkan tubuhku. Dan sekarang... dia mendapatkanku.” (Bab 7, Pemeriksaan Paling Menghinakan)
”Ini pemerkosaan. Ini kekerasan. Tubuhku, yang baru saja merasakan surga bersama Yazid, kini sedang dinodai, dihancurkan oleh monster ini.” (Bab 8, Cicilan Hutang Pertama)
”Dia menyemburkan peju kotornya di dalam tubuhku... ‘Lanjutkan kerjamu besok,’ desisnya. ‘Masuk sif seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.’” (Bab 9, Pembayaran dengan Rahim)
”Ada sesuatu yang berat di balik mata indah itu. Sesuatu yang membuat senyum cerahnya meredup.” (Bab 10, Kopi Panas Sang Pelanggan)
”Mata kami bertemu selama sedetik. Aku melihat syok. Bingung. Ngeri.” (Bab 11, Kompensasi Tubuh)
”Gaji Mas Kemas bulan ini... adalah kamu, Lina.” (Bab 12, Gaji yang Tertukar)
”Aku terjebak. Mulutku diperkosa oleh pria yang satu. Tubuhku dilecehkan oleh pria yang lain. Aku berlutut di lantai neraka ini, melayani dua iblis sekaligus.” (Bab 13, Bayaran untuk Kemas)
”Dia memilih menjadi monster.” (Bab 14, Malam Terpanjang)
”Dia tidak terlihat jijik. Dia tidak terlihat marah padaku. Dia hanya terlihat... hancur.” (Bab 15, Sang Penyelamat)
***