Peristiwa pemindahan kiblat yang membuka juz ini dijelaskan bukan hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai momen pembentukan identitas dan kedewasaan umat Islam. Dari sana, tafsir ini menegaskan peran besar konsep ummatan wasathan—umat yang moderat, adil, dan seimbang—yang dipersiapkan untuk menjadi saksi bagi peradaban manusia. Pembahasan kemudian bergeser ke tema-tema kehidupan sehari-hari, seperti kesabaran dalam ujian, keagungan puasa, ibadah haji, serta hukum pernikahan, perceraian, dan warisan; semuanya disampaikan dengan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami.
Bagian akhir juz menuturkan kisah Thalut, Jalut, dan Nabi Dawud sebagai pelajaran tentang kepemimpinan, keberanian moral, dan kekuatan iman dalam menghadapi tantangan besar. Melalui penyampaian yang runtut dan reflektif, Tafsir Ulul Albab Juz 2 menjembatani makna ayat-ayat al-Qur’an dengan realitas manusia modern, sehingga setiap pembaca dapat merasakan relevansi dan kedalaman pesan Ilahi dalam perjalanan hidupnya.
Agus Mustofa adalah penulis yang sangat produktif. Setiap tiga bulan sekali selalu menerbitkan satu buku atau lebih. Dan itu sudah berjalan secara konsisten 16 tahun terakhir.
Alumni Teknik Nuklir UGM, Yogyakarta dan mantan wartawan itu telah menghasilkan lebih dari 60 judul buku. Sebagiannya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Arab dan Melayu. Buku-bukunya dikenal secara populer sebagai Serial Diskusi Tasawuf Modern.
Anak mursyid tarekat di zaman Bung Karno, Syekh Djafri Karim, itu selama setahun tinggal di Kairo Mesir, untuk mengasah dan memperdalam pemikiran-pemikiran keagamaannya yang dikenal kritis & kontroversial.
Ketika di Mesir itu, ia melakukan perjalanan bersejarah menyusuri Sungai Nil sepanjang lebih dari 5000 km, yang ditulis setiap hari di koran-koran Grup Jawa Pos dan lantas disempurnakan menjadi buku Best Seller berjudul : “EKSPEDISI SUNGAI NIL, Sebuah Perjalanan Spiritual”.
Mantan wartawan berputera empat ini bertekad menulis terus sampai maut datang menjemput.