Hidup Ilyas (44 tahun) menjadi kacau sejak kedatangan seorang gadis bernama Hanna (19 tahun) di bengkelnua pada suatu sore. Entah kenapa Ilyas jadi terjebak ke dalam masalah hidup gadis yang lebih muda 25 tahun darinya itu.
Ilyas yang semula hidup bebas, merasa terikat karena sebuah ciuman sepele yang ia daratkan di bibir mungil Hanna di saat gadis itu tengah pingsan. Ciuman yang membuat pria slengean itu kemudian merasa bersalah, dan selalu dihantui bayangan Hanna. Sehingga akhirnya ia jaruh cinta. Perasaan yang selama 44 tahun selalu Ilyas hindari.
Tidak mudah mencintai Hanna, Ilyas dihadapkan pada banyak sekali rintangan. Hanna yang belakangan diketahui menjadi korban bullying di sekolah, juga menderita Post Traumatic Syndrom Disorder akut yang menyebabkannya sering dilanda cemas, juga bayangan-bayangan buruk, membuat Ilyas kesulitan memperkenalkannya pada Marini, ibunya. Selain, tentunya, karena usia Hanna yang jauh lebih muda darinya.
Selain itu, Ilyas juga dihadapkan pada Arman, kakak Hanna, yang sangat pendiam dan misterius. Pria yang Ilyas duga menjadi penyebab dari gangguan jiwa yang diderita Hanna.
Semua masalah di hidup Hanna, menjadi urusan pelik yang menyibukkan pikiran Ilyas setiap hari, sejak ia mengenal gadis itu. Namun, pria berpendirian itu tidak pernah menyerah, dan terus berusaha mengeluarkan kekasihnya dari kondisi sebagai korban bullying, keluar dari trauma yang menderanya, dan berjuang mendapat restu untuk hubungan yang di mata siapa pun tidak masuk akal itu.